Di sinilah peran intelijen menjadi penentu. Sumber seperti CBS melaporkan, CIA berhasil melacak posisi pasti sang awak. Informasi berharga itu lalu disalurkan ke Pentagon untuk segera ditindaklanjuti.
Namun begitu, mereka tak bisa gegabah. Operasi ini dibungkus dengan taktik disinformasi. Intelijen AS sengaja menyebarkan kabar burung bahwa sang awak sudah ditemukan lebih dulu. Tujuannya jelas: mengalihkan perhatian dan mengelabui pihak Iran, sementara tim penyelamat bersiap bergerak.
Saat pasukan khusus akhirnya mendekati lokasi, suasana mencekam. Serangan udara dan tembakan-tembakan dilancarkan AS untuk menjauhkan pasukan Iran dari titik evakuasi. Bahkan, ada laporan yang menyebut pesawat angkut yang digunakan sengaja dihancurkan agar tidak jatuh ke tangan musuh.
Di sisi lain, Iran punya klaimnya sendiri. Mereka menyatakan berhasil menggagalkan sebagian operasi dan menghancurkan beberapa aset militer AS, termasuk sebuah pesawat angkut dan helikopter. Media pemerintah setempat juga memberitakan tembakan jatuh terhadap drone AS yang sedang melakukan pencarian.
Berdasarkan citra yang beredar, puing-puing pesawat tempur itu berserakan di kawasan pegunungan, sekitar 50 kilometer di tenggara Isfahan. Pemandangan yang mengingatkan betapa berbahayanya misi ini.
Akhirnya, menjelang tengah malam waktu AS, semua usaha itu membuahkan hasil. Operasi penyelamatan berhasil diselesaikan. Awak yang selamat segera dievakuasi, diterbangkan langsung ke Kuwait untuk mendapatkan perawatan medis yang lebih lengkap. Sebuah akhir yang beruntung, setelah melalui petualangan yang nyaris mustahil.
Artikel Terkait
Idrus Marham Peringatkan Bahaya Narasi Provokatif bagi Stabilitas Nasional
West Ham Pertimbangkan Lapor FIFA Usai Wan-Bissaka Telat dari Perayaan Kongo
Menteri Keuangan Tegaskan Harga BBM Subsidi Tak Naik Sampai Akhir Tahun
Pemerintah Siapkan Subsidi Rp1,3 Triliun Per Bulan untuk Tekan Kenaikan Harga Tiket Pesawat