Ledakan keras mengguncang kawasan selatan Beirut pada Minggu. Menurut sumber dari layanan ambulans Lebanon yang berbicara kepada RIA Novosti, serangan udara Israel itu menewaskan empat orang dan melukai tiga puluh lainnya. Jumlah korban itu, kata sumber tersebut, masih bersifat sementara dan bisa saja bertambah.
Serangan itu berfokus di lingkungan Jnah dan Roueiss. Seorang koresponden di lapangan melaporkan, rudal menghantam beberapa gedung hunian bertingkat di kawasan tersebut. Reruntuhan dan debu memenuhi udara.
Yang membuat situasi semakin rumit, daerah Jnah bukan cuma permukiman biasa. Di sana berdiri Kedutaan Besar China. Lebih dari itu, kawasan itu juga menjadi tempat penampungan sementara terbesar bagi pengungsi menampung lebih dari 8.000 orang yang mengungsi dari konflik di Lebanon selatan dan timur. Bayangkan saja, serangan di lokasi yang begitu padat dan rentan.
Eskalasi kekerasan ini bukan datang tiba-tiba. Semuanya berawal dari awal Maret lalu, tepatnya 2 Maret, ketika Hizbullah kembali melancarkan serangan roket ke wilayah Israel. Aksi itu mereka lakukan sebagai bentuk solidaritas, menanggapi serangan militer AS dan Israel yang ditujukan ke Iran.
Israel pun tak tinggal diam. Balasan mereka keras dan meluas. Serangan besar-besaran dilancarkan tidak hanya di Lebanon selatan, tapi juga menjangkau Lembah Beqaa dan bahkan pinggiran kota Beirut seperti yang terjadi hari ini.
Dan tampaknya, ini belum akan berakhir. Pada pertengahan Maret, militer Israel secara resmi mengumumkan dimulainya operasi darat di Lebanon selatan. Sebuah langkah yang jelas mempertegas bahwa ketegangan masih jauh dari kata mereda.
Korban jiwa terus berjatuhan. Warga sipil, sekali lagi, terjebak di tengah baku tembak yang tak kunjung usai.
Artikel Terkait
BMKG Peringatkan Cuaca Ekstrem di Sembilan Wilayah Jawa Tengah hingga Kamis Pagi
Polisi Ungkap Peran Empat Tersangka Narkoba di Hiburan Malam New Zone Medan, dari Penyedia hingga Pengawas Razia
Gereja Katolik di Mimika Hangus Terbakar akibat Lilin Tak Dipadamkan
PBNU Kecam Kekerasan Seksual di Padepokan Pekalongan, Desak Proses Hukum Tuntas