Blackout Bukan Hanya di Indonesia: Pengamat Soroti Gangguan Listrik di Negara Maju dan Pentingnya Penguatan Sistem Kelistrikan Nasional

- Rabu, 27 Mei 2026 | 04:30 WIB
Blackout Bukan Hanya di Indonesia: Pengamat Soroti Gangguan Listrik di Negara Maju dan Pentingnya Penguatan Sistem Kelistrikan Nasional

Gangguan sistem kelistrikan berskala besar yang menyebabkan pemadaman massal ternyata bukan fenomena yang hanya terjadi di Indonesia. Sejumlah negara maju, seperti Australia, Inggris, dan Portugal, juga pernah mengalami peristiwa serupa yang menguji ketahanan infrastruktur energi mereka.

“Sistem kelistrikan negara maju juga pernah mengalami blackout. Jadi gangguan berskala besar seperti ini bukan hanya terjadi di Indonesia,” ujar Pengamat Energi sekaligus Direktur Pusat Studi Kebijakan Publik (Puskepi), Sofyano Zakaria, dalam pernyataan resmi pada Selasa (26/5/2026).

Ia menjelaskan, Australia Selatan pernah mengalami pemadaman besar pada 2016 yang dipicu oleh cuaca ekstrem. Kondisi itu menyebabkan gangguan beruntun pada jaringan transmisi hingga melumpuhkan pasokan listrik di wilayah yang luas. Sementara itu, Inggris pada 2019 juga menghadapi gangguan sistem kelistrikan yang memicu pemadaman meluas dan mengganggu operasional transportasi publik.

Belum lama ini, Spanyol dan Portugal pun mencatatkan gangguan kelistrikan berskala besar yang memerlukan proses penormalan sistem secara bertahap. Menurut Sofyano, dalam sistem interkoneksi besar seperti di Pulau Sumatera, gangguan pada jaringan transmisi akibat cuaca ekstrem memang dapat berdampak luas terhadap stabilitas pasokan listrik. Oleh karena itu, proses pengamanan dan penormalan sistem harus dilakukan secara hati-hati dan terkoordinasi.

“Yang terpenting adalah bagaimana proses penanganan dan penormalan sistem dilakukan secara terkoordinasi agar sistem kembali stabil,” katanya.

Dalam sistem interkoneksi yang kompleks, lanjut dia, proses pengembalian sistem tidak dapat dilakukan secara instan. Operator harus memastikan frekuensi, tegangan, dan pasokan listrik berada dalam kondisi aman sebelum seluruh jaringan dapat dinormalkan sepenuhnya.

Maka dari itu, fokus utama pemerintah dan pemangku kepentingan sektor ketenagalistrikan saat ini sebaiknya diarahkan pada percepatan penguatan sistem kelistrikan nasional. Langkah ini dinilai penting untuk meminimalkan kemungkinan terulangnya kejadian serupa di masa mendatang.

Ke depan, Sofyano menilai pengembangan backbone kelistrikan Sumatera menjadi langkah strategis untuk memperkuat ketahanan sistem listrik nasional. Hal ini terutama dapat diwujudkan melalui penguatan jaringan transmisi 500 kV, 275 kV, hingga pengembangan jaringan 150 kV yang telah tercantum dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034.

“Penguatan backbone Sumatera akan menjadi fondasi penting dalam menciptakan sistem kelistrikan yang lebih terintegrasi dari Aceh hingga Lampung. Selain itu, pengembangan pembangkit fast response, modernisasi sistem proteksi, serta pemeliharaan berbasis digital dan prediktif juga menjadi langkah penting untuk memperkuat stabilitas sistem,” ujar dia.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar