Produsen chip asal Korea Selatan, SK Hynix, resmi mencatatkan sahamnya di bursa Nasdaq pada Jumat (10/7) waktu Amerika Serikat. Langkah ini membuka peluang bagi investor AS untuk berinvestasi langsung pada perusahaan yang menjadi salah satu pemain terbesar dalam ledakan industri kecerdasan buatan (AI).
SK Hynix merupakan perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar kedua di Korea Selatan setelah Samsung. Dalam setahun terakhir, harga sahamnya melonjak lebih dari tujuh kali lipat hingga mendorong valuasi perusahaan mencapai sekitar 1 triliun dolar AS.
Meski namanya belum sepopuler Samsung di Amerika Serikat, produk SK Hynix sebenarnya digunakan secara luas. Bersama Samsung dan Micron, perusahaan ini menjadi tiga produsen utama chip memori yang dipakai di laptop, smartphone, hingga server AI dari berbagai merek, seperti Apple dan Dell.
Perjalanan Panjang dari Hampir Bangkrut
SK Hynix memiliki perjalanan panjang sebelum menjadi salah satu perusahaan chip paling bernilai di dunia. Akar perusahaan berasal dari Gukdo Construction yang didirikan pada 1949. Perusahaan kemudian masuk ke industri elektronik pada 1983 melalui Hyundai Electronics, anak usaha konglomerasi Hyundai.
Krisis finansial Asia pada akhir 1990-an menjadi petaka bagi perusahaan. Dalam restrukturisasi ekonomi Korea Selatan yang didukung Dana Moneter Internasional (IMF), Hyundai mengakuisisi bisnis semikonduktor LG untuk membentuk produsen chip berskala besar. Namun, perusahaan hasil merger tersebut justru terbebani utang besar di tengah anjloknya harga chip memori.
Pada 2001, perusahaan berganti nama menjadi Hynix Semiconductor, gabungan kata "high" dan "electronics". Hynix hampir gulung tikar dan terpaksa melakukan pemutusan hubungan kerja, melepas sejumlah aset, serta memisahkan diri dari Hyundai. Perusahaan kembali mencetak laba, tetapi tetap menghadapi siklus naik turun bisnis DRAM yang sangat tajam.
Titik balik terbesar datang pada 2012 ketika grup telekomunikasi SK Group mengakuisisi Hynix dan mengubah namanya menjadi SK Hynix. Akuisisi tersebut membuka jalan bagi investasi besar-besaran pada teknologi High Bandwidth Memory (HBM), yang saat itu masih dianggap mahal dan belum menghasilkan keuntungan sehingga kurang diminati industri.
Keputusan tersebut kini terbukti menjadi keunggulan strategis. HBM berubah menjadi salah satu komponen paling penting dalam komputasi AI modern, sekaligus mengangkat SK Hynix menjadi pemasok utama Nvidia dan perusahaan chip dengan nilai pasar sekitar 1 triliun dolar AS. Saat ini SK Hynix mempekerjakan hampir 46.900 karyawan di berbagai negara.
Pimpin Pasar HBM untuk AI
Tingginya permintaan AI menjadi pendorong utama lonjakan bisnis perusahaan. Selama dua tahun terakhir, kebutuhan terhadap chip AI menciptakan kelangkaan memori berperforma tinggi dan mendorong harga chip ke level tertinggi sepanjang sejarah.
SK Hynix saat ini memimpin pasar HBM, jenis memori berkecepatan tinggi yang menjadi komponen utama akselerator AI Nvidia. Berbeda dari RAM konvensional, HBM menggabungkan banyak lapisan memori menjadi satu paket sehingga mampu menyediakan bandwidth jauh lebih besar untuk kebutuhan komputasi AI.
Perusahaan menjadi pelopor teknologi tersebut dan diperkirakan menguasai lebih dari separuh pasar HBM global pada tahun ini.
Pada Juni 2026 lalu, CEO Nvidia Jensen Huang mengunjungi Seoul untuk mengumumkan kemitraan jangka panjang dengan SK Hynix. Nvidia sendiri merupakan pembeli HBM terbesar di dunia.
"Keunggulan tersebut menjadikan SK Hynix sebagai salah satu perusahaan yang paling diuntungkan oleh pesatnya pertumbuhan infrastruktur AI," kata Ellie Wang, analis dari TrendForce.
Mega Proyek SK Hynix di AS
Melalui pencatatan saham di Nasdaq dengan kode SKHY, SK Hynix menargetkan penghimpunan dana sekitar 29 miliar dolar AS melalui penerbitan American Depositary Receipts (ADR). Dana tersebut akan digunakan untuk membangun pabrik baru dan membeli peralatan produksi.
Salah satu proyek terbesarnya berada di Amerika Serikat. SK Hynix sedang membangun fasilitas produksi pertamanya di West Lafayette, Indiana, dengan investasi sekitar 4 miliar dolar AS. Pabrik yang ditargetkan beroperasi pada 2028 itu akan memproduksi teknologi advanced packaging untuk menyusun dan menghubungkan chip-chip HBM menjadi satu sistem yang siap digunakan pada komputer AI.
Proyek tersebut juga memperoleh dukungan pemerintah AS melalui Undang-Undang Insentif untuk Mendorong Produksi Semikonduktor dan Pengembangan Ilmu Pengetahuan (CHIPS and Science Act). SK Hynix berpotensi menerima hibah hingga 458 juta dolar AS dan pinjaman sampai 570 juta dolar AS dari Departemen Perdagangan Amerika Serikat.
Tidak hanya HBM, bisnis memori secara keseluruhan sedang menikmati lonjakan permintaan. Kelangkaan RAM untuk smartphone, PC, kendaraan, tablet, hingga perangkat medis membuat harga memori terus meningkat dan margin keuntungan produsen berada pada level tertinggi.
Lebih dari 75 persen pendapatan SK Hynix berasal dari bisnis RAM, termasuk HBM. Perusahaan juga memproduksi NAND Flash dan menjadi pemimpin pasar global dengan pangsa sekitar 19 persen pada kuartal pertama berdasarkan data IDC.
Pendapatan Melonjak Berkat Boom AI
Kinerja keuangannya ikut melonjak. Pendapatan tahunan hampir tiga kali lipat dari 2023 ke 2025 hingga mencapai sekitar 65 miliar dolar AS. Analis yang disurvei LSEG memperkirakan pendapatan SK Hynix kembali melonjak menjadi sekitar 235 miliar dolar AS pada 2026.
Meski demikian, industri memori dikenal sangat siklikal. Lonjakan permintaan biasanya diikuti ekspansi kapasitas besar-besaran yang pada akhirnya memicu kelebihan pasokan dan penurunan harga.
Untuk mengurangi risiko tersebut, SK Hynix bersama Samsung dan Micron mulai menerapkan kontrak pasokan jangka panjang dengan pelanggan besar. Strategi ini memberi kepastian permintaan sekaligus membantu perusahaan merencanakan investasi dalam jangka panjang.
Analis Futurum Group Daniel Newman mengatakan investor tetap perlu mempertimbangkan risiko karena industri memori memiliki sejarah mengalami lonjakan dan kejatuhan yang tajam.
"Ini adalah pola yang selalu terjadi pada industri memori dalam setiap megasiklus atau supercycle," ujar Newman. "Masalahnya, setiap kali itu terjadi, pasar memori selalu mengalami kejatuhan yang sangat tajam."
Namun, menurutnya, apabila permintaan AI terus bertahan dalam beberapa tahun ke depan, valuasi perusahaan memori masih berpotensi menarik karena kebutuhan kapasitas memori AI terus meningkat dan diperkirakan kelangkaan pasokan baru akan mereda setelah 2027.
Ekspansi Jumbo di Korea Selatan
Untuk memenuhi permintaan tersebut, SK Hynix menyiapkan ekspansi besar di Korea Selatan. Perusahaan berencana menginvestasikan hingga 720 miliar dolar AS untuk memperluas fasilitas produksi chip AI.
Salah satu proyek utamanya adalah kompleks pabrik semikonduktor di Yongin senilai 390 miliar dolar AS. Empat pabrik baru dijadwalkan selesai pada 2033. Selain itu, perusahaan memperluas fasilitas di Cheongju dan membangun klaster produksi baru di wilayah barat daya Korea Selatan.
Ekspansi tersebut membutuhkan mesin litografi Extreme Ultraviolet (EUV) buatan ASML, Belanda, yang menjadi peralatan utama untuk memproduksi chip canggih seperti HBM. Harga satu mesin EUV dapat mencapai 400 juta dolar AS dan SK Hynix berencana menggelontorkan sekitar 7,8 miliar dolar AS untuk pembelian mesin tersebut hingga akhir 2027.
Menurut Counterpoint Research, pembangunan pabrik memang sedang berlangsung secara masif di Korea Selatan. Namun, kapasitas produksi baru diperkirakan mulai memberikan dampak signifikan terhadap pasokan chip global pada akhir 2027.
Artikel Terkait
Penjualan Chip Memori Global Tembus Rekor Rp1.300 Triliun dalam Sebulan
Saat Bot Meniru Manusia: Ancaman terhadap Identitas dan Keaslian di Era AI
Wall Street Menguat, Saham Semikonduktor Pimpin Reli di Tengah Ketegangan Geopolitik
SK Hynix Buka IPO di AS, Incar Dana Rp 28 Miliar Dolar