Suasana hajatan di Desa Kertamukti, Purwakarta, berubah jadi petaka. Seorang pemilik hajatan, Dadang, tewas usai dikeroyok sekelompok pemuda. Awalnya, mereka cuma minta uang. Tapi penolakan untuk memberi lebih, berakhir dengan kekerasan mematikan.
Menurut adik korban, Wahyudin, kelompok itu datang ke resepsi. Mereka meminta uang istilahnya, memalak. Keluarga pun mengalah, memberikan Rp 100 ribu agar acara bisa terus berjalan lancar.
"Saya itu dimintai uang, istilahnya dipalak. Pertama dikasih Rp 100 ribu,"
kata Wahyudin saat berbicara di Mapolres Purwakarta, Sabtu malam kemarin.
Namun begitu, rasa tenang tak berlangsung lama. Kurang dari satu jam kemudian, rombongan yang sama muncul lagi. Kali ini, permintaannya melonjak: Rp 500 ribu. Dadang, sang tuan rumah, menolak. Dia merasa cukup sudah memberi.
Penolakan itu seperti menyulut bensin. Suasana langsung memanas. Dadang keluar dari tenda resepsi, mungkin untuk menghindari keributan di dalam. Tapi di luar, justru malah lebih buruk. Sekelompok orang langsung menyerbu.
"Setelah tidak dikasih, terjadi keributan. Kakak saya dikeroyok tiga orang, saya juga sempat dikeroyok sekitar delapan orang,"
Wahyudin menambahkan, suaranya masih terdengar bergetar.
Aksi brutal itu membuat Dadang terjatuh dan tak sadarkan diri. Keluarga buru-buru membawanya ke rumah sakit. Sayangnya, semua upaya sudah terlambat. Nyawa Dadang tak bisa diselamatkan.
Kini, hajatan yang seharusnya penuh sukacita itu hanya menyisakan duka. Sebuah desa di Campaka itu berduka, menunggu proses hukum yang diharapkan bisa menegakkan keadilan.
Artikel Terkait
Ikatan Keluarga Minang Resmi Laporkan Abu Janda ke Bareskrim atas Ujaran ‘Suku Barbar’
Sapi Kurban di Bogor Kabur dari Musala, Terjebak di Gorong-gorong
Ribuan Jemaah Haji Mulai Tinggalkan Arafah Menuju Muzdalifah untuk Mabit
Polda Riau Salurkan 195 Hewan Kurban ke Desa Terpencil saat Idul Adha 2026