Banjir Bandang di Angola Tewaskan 15 Orang dan Rendam Ribuan Rumah

- Senin, 06 April 2026 | 01:00 WIB
Banjir Bandang di Angola Tewaskan 15 Orang dan Rendam Ribuan Rumah

Banjir Bandang Guncang Angola, 15 Nyawa Melayang

Hujan tak henti-hentinya mengguyur Angola selama berjam-jam. Akibatnya, banjir bandang pun tak terelakkan. Bencana ini bukan hanya merenggut nyawa, tapi juga menghancurkan infrastruktur di berbagai wilayah.

Layanan darurat setempat mengonfirmasi hal itu pada Minggu (5/4/2026).

"Hujan deras telah melanda Angola, menewaskan 15 orang dan membanjiri lebih dari 4.000 rumah," begitu bunyi pernyataan mereka yang dikutip AFP.

Dari angka korban jiwa itu, Kota Benguela menanggung beban paling berat. Sebanyak 12 orang dilaporkan tewas di sana. Sementara itu, tiga korban lainnya berasal dari Kota Luanda, ibu kota negara.

Bagi warga seperti Natalia di Luanda, banjir ini mengubah rumahnya menjadi sesuatu yang tak dikenali. Ia menggambarkannya bak 'kolam renang' dalam sekejap.

"Saya kehilangan hampir semuanya dan saya tidak tahu harus pergi ke mana," ujarnya, terdengar putus asa.

Untuk menyelamatkan yang tersisa, keluarganya terpaksa memindahkan anak dan cucu-cucu ke rumah kerabat yang lebih aman. Situasi yang benar-benar di luar kendali.

"Kami benar-benar kehilangan kata-kata. Semoga Tuhan membantu kami," tambah Natalia.

Memang, hujan lebat adalah hal biasa di Angola saat musim penghujan tiba. Namun begitu, para ilmuwan punya catatan penting. Mereka meyakini perubahan iklim buatan manusia telah memperbesar peluang durasi dan intensitas cuaca ekstrem semacam ini. Artinya, bencana bisa lebih lama dan lebih parah.

Dampaknya bahkan merembet ke negara tetangga. Di Namibia, Sungai Zambezi meluap dengan sangat cepat. Ribuan orang yang hidup di tepiannya terpaksa meninggalkan rumah mereka demi keselamatan.

Ketinggian air dilaporkan mencapai angka yang mengkhawatirkan: sekitar 6,8 meter. Padahal, batas normalnya hanya empat meter. Menghadapi keadaan darurat ini, pihak berwenang bergerak cepat. Mereka telah memindahkan penduduk ke sembilan kamp sementara. Salah satu kamp bahkan menampung lebih dari 2.700 pengungsi.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar