Operasi militer Nigeria baru-baru ini berhasil menewaskan lebih dari 60 bandit. Kelompok kriminal inilah yang selama ini diduga kuat berada di balik sebagian besar aksi penculikan massal yang meresahkan masyarakat.
Menurut informasi yang beredar, operasi penumpasan itu digelar di Zamfara. Di negara bagian inilah, polisi setempat mengonfirmasi terjadinya penculikan massal pada awal pekan lalu. Sebenarnya, Kepolisian Nigeria sudah menyebut soal serangan geng bersenjata terhadap penduduk desa pada Kamis malam. Sayangnya, mereka enggan merinci berapa tepatnya korban yang berhasil dibawa kabur.
Namun begitu, cerita dari warga di lapangan jauh lebih suram. Mereka memperkirakan tujuh orang tewas dan sekitar 150 orang lainnya diculik. Kejadian mencekam itu berlangsung saat segerombolan pria bersenjata menerjang enam desa di wilayah Bukkuyum.
Polisi langsung menggelar perburuan untuk menangkap para pelaku. Dan upaya itu tampaknya membuahkan hasil.
Laporan keamanan pada Minggu kemarin menyebut, setidaknya 65 bandit tewas dalam sebuah operasi yang disebut-sebut sebagai terobosan penting. Serangan gabungan darat dan udara yang berlangsung selama tujuh jam itu terjadi di distrik Tsafe sekitar 200 kilometer dari lokasi penculikan terbaru.
Zamfara, harus diakui, hanyalah satu dari sejumlah negara bagian di barat laut dan tengah Nigeria yang hidup dalam teror. Geng kriminal lokal, atau yang biasa disebut "bandit", ini memang kejam. Mereka tak segan menyerang warga, menculik untuk tebusan, hingga membakar rumah usai dijarah.
Lalu, bagaimana semua ini bermula? Awalnya, lebih dari sepuluh tahun lalu, konflik ini cuma perselisihan biasa antara penggembala dan petani. Mereka berebut air dan lahan yang makin susah didapat karena perubahan iklim.
Lambat laun, kekerasan antarkelompok itu berubah wujud. Dari sekadar bentrok, menjadi sindikat pencurian ternak yang terorganisir, lalu merambah ke bisnis kotor penculikan untuk tebusan.
Yang lebih mengkhawatirkan, motif keuntungan finansial kini membuat para bandit ini mulai berkolaborasi dengan elemen jihadis dari timur laut. Kelompok pemberontak itu sendiri sudah 17 tahun melancarkan perlawanan bersenjata dengan tujuan mendirikan kekhalifahan. Kolaborasi semacam ini, tentu saja, membuat situasi keamanan jadi semakin rumit dan berbahaya.
Artikel Terkait
BULOG Tarik Beras Bantuan Pangan Bermasalah di Bangkalan, Ganti dengan yang Layak Konsumsi
Penembakan di Festival Old West End Toledo, Sejumlah Korban Dilarikan ke Rumah Sakit
Dua Tentara Israel Tewas di Lebanon Selatan, Termasuk Perwira Komando
Selebgram Makassar Diperiksa 6 Jam, Akui Lumpuh Sementara Usai Konsumsi Gas Tertawa