Membangun Ekosistem Biofarmasi Nasional: Dari Peluncuran Produk Menuju Kemandirian

- Selasa, 04 Agustus 2026 | 14:06 WIB
Membangun Ekosistem Biofarmasi Nasional: Dari Peluncuran Produk Menuju Kemandirian

Peluncuran vaksin tifoid dan vaksin dengue produksi dalam negeri, serta dimulainya investasi untuk memproduksi Obat Derivat Plasma (PODP) dan obat-obatan inovatif biofarmasi, menjadi kabar yang patut disyukuri. Langkah-langkah ini merupakan buah dari perjalanan panjang industri biofarmasi nasional yang selama puluhan tahun hanya menjadi wacana karena kompleksitas teknologi dan besarnya modal yang dibutuhkan.

Namun, capaian tersebut bukanlah garis akhir. Vaksin tifoid, vaksin dengue, dan PODP hanyalah tonggak dari perjalanan yang jauh lebih panjang: membangun ekosistem industri biofarmasi yang mandiri, kompetitif, dan mampu mengikuti perkembangan teknologi kesehatan dunia yang bergerak cepat.

Tantangan Struktural

Di balik setiap peluncuran produk baru, industri farmasi Indonesia masih menyimpan kerentanan struktural yang sudah berlangsung puluhan tahun: ketergantungan pada bahan baku obat impor yang mencapai sekitar 90 persen, sebagian besar dari India dan Tiongkok. Kita sudah mampu memformulasi, mengemas, dan mendistribusikan, tetapi pada bagian hulu penguasaan bahan aktif, platform teknologi produksi, hingga kapasitas riset untuk inovasi orisinal kita masih bergantung pada pihak lain.

Pengalaman pandemi COVID-19 menjadi cermin. Dari setidaknya tujuh platform riset yang dikembangkan berbagai lembaga bersama mitra industrinya, hanya dua yang berhasil memperoleh izin edar darurat. Lima lainnya terhenti sebelum komersialisasi. Hal ini bukan semata-mata karena kurangnya semangat atau kecerdasan peneliti, melainkan cermin kesenjangan struktural: pendanaan riset yang terputus tepat di titik paling kritis, ketika kandidat produk harus melompat dari skala laboratorium ke skala produksi industri yang teregulasi ketat. Titik ini yang dalam literatur kebijakan riset disebut valley of death adalah tempat paling banyak inovasi gugur, bukan karena idenya buruk, tetapi karena tidak ada jembatan pembiayaan dan kelembagaan yang memadai.

Belajar dari China

China, empat dekade lalu, berada pada posisi yang tidak jauh berbeda: bergantung pada teknologi asing dengan kapasitas riset domestik yang masih rintisan. Sejak awal 1980-an, pemerintah China merancang kebijakan industri biofarmasi secara berkesinambungan melalui rencana pembangunan lima tahunan yang konsisten, tidak terputus oleh pergantian rezim atau tekanan politik jangka pendek. Negara hadir bukan sekadar regulator, tetapi arsitek ekosistem: membangun klaster industri regional yang saling melengkapi, mengalirkan pendanaan riset lintas tahap secara masif, dan memberi ruang bagi industri domestik untuk belajar meniru sebelum dituntut berinovasi murni.

Hasilnya baru terlihat nyata setelah lebih dari tiga dekade. Pangsa pasar biofarmasi Tiongkok terhadap total pasar farmasinya melonjak dari sekitar 4,5 persen pada 2010 menjadi lebih dari 15 persen pada akhir dekade berikutnya, dengan pertumbuhan belanja riset dan pengembangan yang berlipat ganda dalam hitungan tahun. Kini Tiongkok bertransisi dari peniru teknologi menjadi salah satu produsen obat biologis dan vaksin generasi baru terkemuka, meski mereka sendiri masih mengakui pekerjaan rumah yang tersisa, terutama pada kemandirian bahan baku riset dan orisinalitas penemuan target obat baru.

Pelajaran yang bisa diambil bukan soal meniru skala Tiongkok yang jauh lebih besar, melainkan pola kebijakannya: konsistensi jangka panjang, keberanian mendukung strategi "belajar dari yang sudah ada" sebagai jembatan menuju kemandirian, serta peran negara sebagai orkestrator.

Pentingnya Ekosistem

Dunia biofarmasi hari ini bergerak dengan kecepatan yang sulit dibayangkan satu dekade lalu. Ketika kita masih berkutat pada platform vaksin konvensional, dunia telah beralih ke teknologi mRNA yang memangkas waktu produksi dari bertahun-tahun menjadi hitungan minggu, desain antigen berbasis kecerdasan buatan yang mempercepat penemuan kandidat vaksin, hingga sistem penghantaran vaksin lewat hidung atau inhalasi yang mengurangi ketergantungan pada rantai dingin sesuatu yang sangat relevan bagi negara kepulauan. Jika kita hanya berpuas diri dengan pencapaian hari ini tanpa membangun fondasi untuk mengejar arus teknologi tersebut, jarak yang harus ditempuh esok hari justru semakin lebar.

Menciptakan ekosistem yang melampaui produk itu sendiri menjadi sangat penting. Meluncurkan beberapa produk biofarmasi baru adalah pencapaian institusi dalam satu momen. Mewujudkan ekosistem adalah pekerjaan lintas institusi yang harus terus berjalan, mencakup setidaknya empat pilar.

Pertama, regulasi yang adaptif dan mampu mengimbangi kecepatan inovasi, termasuk jalur persetujuan yang lebih cepat untuk teknologi baru dan harmonisasi dengan standar regulasi kawasan agar produk kita lebih mudah diterima pasar regional.

Kedua, pendanaan riset yang tidak terputus di tengah jalan, khususnya pada tahap transisi dari skala laboratorium menuju skala produksi industri. Kehadiran Danantara hari ini rasanya dapat menjadi game changer.

Ketiga, kemitraan strategis, baik dengan mitra global pemilik teknologi generasi terbaru maupun dengan ekosistem riset domestik universitas, lembaga riset, dan perusahaan rintisan bioteknologi yang selama ini kerap berjalan sendiri-sendiri tanpa jembatan yang kokoh menuju industri.

Keempat, kepastian pasar bagi produk inovasi dalam negeri, sehingga investasi yang ditanamkan tidak berhenti pada tahap uji klinis karena tidak ada jaminan produknya akan terserap secara berkelanjutan.

Saatnya Mewujudkan

Kabar baik peluncuran vaksin tifoid, vaksin dengue, dan investasi pada produk inovatif seperti PODP adalah bukti bahwa fondasi kita sudah ada dan bekerja. Lebih dari itu, dibutuhkan komitmen untuk menjadikan pencapaian ini sebagai awal dari sistem yang berkelanjutan.

Pemerintah memiliki peran kritikal yang tidak bisa digantikan pihak mana pun: merancang kebijakan pendanaan riset lintas tahap yang menutup titik-titik kritis kegagalan, mempercepat reformasi regulasi tanpa mengorbankan standar keamanan, membuka jalan kemitraan teknologi dengan mitra global sembari memperkuat kapasitas riset domestik, serta memberi kepastian pasar bagi produk-produk inovasi dalam negeri. Industri, di sisi lain, perlu berani mengambil risiko membangun kapabilitas teknologi generasi baru, tidak lagi hanya dengan platform yang telah terbukti selama puluhan tahun.

Indonesia memiliki modal yang tidak dimiliki banyak negara berkembang lain: pengalaman produksi vaksin lebih dari seabad, pengakuan mutu dari badan kesehatan dunia, serta pasar domestik yang besar. Modal ini mungkin akan kurang berdampak jika hanya menghasilkan rangkaian pencapaian yang terpisah-pisah. Sebaliknya, jika dirangkai dalam satu ekosistem yang utuh dan didukung secara konsisten oleh semua pemangku kepentingan, modal ini bisa menjadi fondasi bagi kemandirian kesehatan bangsa yang sesungguhnya tidak hanya untuk hari ini, tetapi untuk menghadapi tantangan kesehatan yang belum kita ketahui bentuknya di masa depan.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags