Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali meluapkan kemarahannya, kali ini kepada Janie Piro, jaksa penuntut federal yang ia tunjuk sendiri. Piro, yang sebelumnya dikenal sebagai pembawa acara Fox News dan sekutu dekat Trump, dianggap telah berkhianat karena mencabut tuduhan terhadap seorang atlet kano Olimpiade, David Hearn, yang sempat terancam hukuman 10 tahun penjara atas tuduhan perusakan Kolam Refleksi di Washington.
Kasus ini bermula dari proyek renovasi Kolam Refleksi yang menghabiskan biaya 14,7 juta dolar AS dan dikerjakan secara kontrak langsung tanpa tender oleh perusahaan yang tidak berpengalaman dalam proyek federal. Tak lama setelah renovasi, kolam dipenuhi ganggang dan lapisan birunya terkelupas di area luas. Departemen Kehakiman kemudian menemukan bahwa kerusakan itu disebabkan oleh pemasangan yang tidak tepat oleh kontraktor, bukan oleh tindakan perusakan seperti yang sempat dituduhkan Departemen Dalam Negeri.
David Hearn, atlet kano berusia 67 tahun, hanya mengendarai sepeda melewati kolam dan menyentuh lapisan yang terkelupas karena penasaran. Meski ia patuh saat petugas taman menyuruhnya melepas, ia tetap dituduh melakukan perusakan dan terancam hukuman berat. Setelah penyelidikan, jaksa Piro mencabut tuduhan tersebut karena bukti menunjukkan kesalahan kontraktor.
Keputusan Piro itu memicu kemarahan Trump. Dalam kritiknya yang bernada keras, Trump menyebut Piro "lipat seperti payung", "tersedak", dan "tidak tahu apa yang ada di pikirannya". Ia bahkan menyalahkan hakim ketua persidangan karena dianggap tidak menuntut "pelaku" yang sebenarnya. Bagi Trump, kasus ini bukan soal bukti dan hukum, melainkan soal kesetiaan. Piro dinilai tidak teguh berdiri di sisi presiden, dan kabarnya ia bisa dipecat.
Penunjukan Piro sendiri sempat menjadi sorotan. Ia adalah sekutu dekat Trump yang direkrut dari Fox News untuk menjabat sebagai Jaksa Federal untuk Distrik Columbia. Langkah ini dianggap sebagai upaya Trump untuk menjadikan sistem peradilan lebih loyalis. Namun, ketika Piro justru menjalankan tugasnya sebagai jaksa dengan mengikuti bukti, ia pun berbalik menjadi sasaran amarah presiden.
Di tengah kontroversi ini, liputan media juga menjadi sorotan. Fox News, yang selama ini kerap membela Trump, awalnya gencar memberitakan narasi "perusakan terencana" dengan total 184 jam tayang utama. Jesse Watters, pembawa acara di stasiun itu, bahkan berulang kali memperkuat tuduhan presiden. Namun, setelah kantor Piro mengajukan dokumen yang membuktikan kerusakan akibat pemasangan yang salah, liputan kasus ini menyusut drastis menjadi hanya 7 menit. Hal ini memunculkan pertanyaan tentang independensi media dalam memberitakan kasus yang melibatkan kekuasaan.
Trump mencemooh Piro dengan sebutan "lipat seperti payung", namun ironisnya, yang benar-benar terlipat dalam kasus ini adalah independensi peradilan, keadilan prosedural, dan penghormatan terhadap bukti. Piro melakukan apa yang seharusnya dilakukan seorang jaksa: mengikuti bukti dan mencabut tuduhan yang tidak berdasar. Jika itu dianggap sebagai kelemahan, maka definisi Trump tentang keteguhan tampaknya telah menyimpang jauh. Seorang presiden yang menjadikan Departemen Kehakiman sebagai alat pribadi dan menganggap kesetiaan di atas segalanya adalah ancaman serius bagi supremasi hukum.
Artikel Terkait
AS Cabut Visa Dubes Brasil di Washington, Perselisihan Diplomatik Memanas
Trump Murka dan Beri Iran Ultimatum: Kesepakatan atau Penyerahan Total
Netanyahu Tolak Kesepakatan Gaza Usulan Trump
AS Berencana Tutup Konsulat di Medan dan Empat Kota Lain