Bulog Salurkan 828.000 Ton Beras Program Sepanjang 2026 untuk Stabilisasi Harga

- Minggu, 05 April 2026 | 02:15 WIB
Bulog Salurkan 828.000 Ton Beras Program Sepanjang 2026 untuk Stabilisasi Harga

JAKARTA – Sepanjang tahun 2026 ini, Perum Bulog bakal terus menyalurkan beras program stabilisasi pasokan dan harga pangan. Tidak ada jeda. Targetnya cukup besar: 828.000 ton untuk seluruh Indonesia.

Hal ini disampaikan langsung oleh Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani. Ia merujuk pada surat penugasan dari Badan Pangan Nasional bernomor 204/TS.03.03/K/2/2026, yang diterbitkan pada 11 Februari lalu.

“Dasar hukum penugasan kami sesuai dengan Perbadan Pangan Nasional Nomor 204 tanggal 11 Februari 2026. Total SPHP tahun ini 828 ribu ton yang harus kami salurkan,” jelas Rizal, Sabtu (4/4/2026).

Menurutnya, strategi distribusi tahun ini dirancang agar harga benar-benar bisa dikendalikan. Beras akan dikirim langsung ke pasar-pasar rakyat. Tujuannya satu: agar masyarakat bisa membeli dengan harga terjangkau.

Di sisi lain, jaringan penyaluran juga diperlebar. Bulog menggandeng Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih atau Kopdes Merah Putih. Mereka juga menggelar gerakan pangan murah bersama sejumlah kementerian, lembaga, dan pemda. Upaya ini intinya untuk bantu warga memenuhi kebutuhan pokok tanpa terbebani harga.

Kalau dirinci, titik distribusinya cukup banyak. Mulai dari outlet binaan pemerintah daerah, koperasi BUMD, koperasi instansi pemerintah, sampai ke Jaringan Rumah Pangan Kita (RPK). Sekitar 80 ribu titik tersebar di berbagai wilayah.

Untuk kualitas, beras SPHP yang disalurkan adalah tipe medium sesuai standar. Kemasannya 5 kilogram, dengan tingkat pecahan sekitar 25 persen dan kadar air 14 persen. Bulog juga lagi siap-siap meluncurkan kemasan 2 kilogram. Jadi, pilihan buat konsumen nanti bakal lebih fleksibel.

Yang menarik, Rizal menegaskan bahwa penyaluran tahun ini bakal berjalan terus tanpa henti. Kebijakan ini diambil agar stabilisasi harga lebih konsisten. Tapi, bukan berarti petani dilupakan. Kondisi panen tetap jadi pertimbangan utama agar harga gabah di tingkat petani tidak anjlok.

“Penyaluran beras program stabilisasi pada 2025 tidak dilakukan sepanjang tahun. Waktu itu, saat masuk masa puncak panen, distribusi sempat dihentikan sementara,” ujarnya membandingkan.

Jadi, tahun ini berbeda. Bulog berkomitmen menjaga pasokan dan harga tetap stabil, dari Januari sampai Desember.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar