Polda Metro Jaya Berikan Pendampingan Penuh kepada Korban Pelecehan Driver Taksi Online

- Senin, 06 April 2026 | 15:35 WIB
Polda Metro Jaya Berikan Pendampingan Penuh kepada Korban Pelecehan Driver Taksi Online

Polda Metro Jaya, melalui direktorat yang menangani perempuan dan anak, kini memberikan pendampingan penuh kepada seorang korban pelecehan. Korban berinisial S, seorang perempuan berusia 20 tahun, mengalami kejadian tak mengenakkan di tangan seorang driver taksi online di kawasan Jakarta Pusat.

Kombes Rita Wulandari Wibowo, Direktur PPA-PPO Polda Metro Jaya, menegaskan bahwa langkah ini adalah bagian dari komitmen mereka. Bukan cuma mengejar pelaku, tapi juga memastikan hak-hak korban terpenuhi.

"Kita ketahui bahwa fungsi daripada kami, selain melakukan upaya menegakkan hukum, maka fungsi kami juga melakukan upaya perlindungan dan pemenuhan hak korban," jelas Rita dalam jumpa pers di Mapolda, Senin (6/4/2026).

Menurutnya, pendampingan dan perlindungan ini punya dasar hukum yang kuat, yakni UU TPKS Nomor 12 Tahun 2022. Aturan itu secara tegas mewajibkan negara untuk melindungi korban, terutama di masa-masa kritis setelah kejadian.

Rita kemudian membeberkan beberapa hal konkret yang sudah dilakukan timnya. Fokusnya ada tiga pilar: perlindungan, penanganan, dan yang tak kalah penting, pemulihan.

"Untuk itu ada beberapa hal yang sudah kami lakukan dalam rangka pemenuhan korban. Ada tiga hal terkait dengan pelindungan, penanganan, dan juga pemulihan," paparnya lebih lanjut.

Saat ini, kondisi korban masih dalam pemantauan ketat. Untuk sementara, S ditempatkan di sebuah rumah perlindungan. Di sanalah proses pemulihan dan treatment berjalan, memberi ruang aman baginya untuk berbenah.

"Kondisinya masih dalam pendampingan," imbuh Rita, menegaskan bahwa upaya pemulihan ini adalah proses berkelanjutan. Mereka juga tak bekerja sendirian; UPT PPA Provinsi DKI Jakarta dan Komnas Perempuan turut digandeng dalam pendampingan ini.

Modus Awal yang Tak Senonoh

Lantas, bagaimana awal mula kejadiannya? Ternyata, pelaku yang berinisial WAH memulai aksinya dengan percakapan merendahkan. Sang driver secara tak pantas menanyakan apakah si korban membuka "jasa" open BO.

"Di situ ada kalimat-kalimat yang menyatakan bahwa si driver ini mengajak berkencan atau mempertanyakan, apakah perempuan ini membuka open BO," ujar Rita mengungkapkan pembukaan percakapan pelaku.

Kata-kata itulah yang menjadi pembuka dari tindakan pelecehan berikutnya. Sebuah awal yang menggambarkan betapa rapuhnya rasa aman di ruang publik, bahkan di dalam kendaraan yang seharusnya menjadi angkutan terpercaya.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar