Serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap wilayah Iran semakin menjadi-jadi. Kali ini, sasarannya disebut-sebut adalah kompleks tempat tinggal pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei. Operasi ini menandai eskalasi baru yang sangat berbahaya.
Menurut laporan Channel 12 Israel yang dikutip AFP, aksi militer itu sangat masif. "30 bom dijatuhkan di kompleks tersebut," begitu bunyi laporannya. Mereka juga menyebut Ali Khamenei kemungkinan sedang berlindung di bawah tanah saat serangan terjadi, meski lokasi pastinya belum bisa dipastikan.
Di sisi lain, dari Jerusalem, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu langsung angkat bicara. Ia mengeluarkan klaim yang menggemparkan usai serangan Sabtu lalu.
"Pagi ini, dalam serangan mendadak yang dahsyat, kompleks kediaman diktator Ali Khamenei dihancurkan di jantung Teheran... dan ada banyak tanda bahwa diktator ini sudah tidak hidup lagi,"
Begitu pernyataan Netanyahu yang disiarkan langsung melalui televisi. Klaim ini, tentu saja, langsung menimbulkan gejolak dan spekulasi di mana-mana.
Namun begitu, Teheran sama sekali belum memberikan konfirmasi atau bantahan resmi. Keadaan Khamenei saat ini benar-benar gelap, tidak ada yang tahu pasti di mana dan dalam kondisi apa dia berada. Keheningan dari pihak Iran justru membuat situasi terasa lebih mencekam.
Sementara korban jiwa dari serangan-serangan ini terus berjatuhan. Organisasi Bulan Sabit Merah Iran melaporkan angka yang memilukan: setidaknya 201 orang tewas dan 747 lainnya terluka akibat rentetan serangan Israel dan AS pada Sabtu malam. Angka itu mungkin belum final, dan menggambarkan betapa dahsyatnya dampak dari konflik yang terus memanas ini.
Artikel Terkait
Gubernur DKI: 112 Juta Warga Gunakan Transportasi Umum di Triwulan I 2026
Shin Tae-yong Buka Peluang Latih Klub Indonesia Usai Dapat Tawaran
Kebakaran di Grogol Petamburan Tewaskan Satu Keluarga, Diduga Dipicu Korsleting Listrik
Karyawan Minimarket Bobol Brankas Rp52 Juta, Habiskan untuk Judi Online dalam 3 Jam