Iran mengecam keras serangan militer Amerika Serikat yang menargetkan fasilitas radar dan pengawasan pesisir di wilayah selatan negara itu, dengan menyebut tindakan Washington sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap gencatan senjata yang rapuh di antara kedua negara. Kementerian Luar Negeri Iran, dalam pernyataan resminya pada Sabtu (6/6/2026), menegaskan bahwa serangan tersebut merupakan bentuk agresi militer yang jelas terhadap kedaulatan dan integritas wilayah Republik Islam Iran.
Serangan itu menyasar fasilitas di wilayah Sirik dan Pulau Qeshm. Menurut keterangan Kementerian Luar Negeri Iran, instalasi tersebut memiliki fungsi vital, yakni menjaga perbatasan negara dan memastikan keamanan pelayaran di jalur perairan internasional. Pemerintah Iran menilai bahwa tindakan Washington menunjukkan ketidakmauan untuk meredakan ketegangan dan merupakan bagian dari pola perilaku bermusuhan yang lebih luas terhadap Teheran.
Di sisi lain, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) memberikan versi yang berbeda. CENTCOM menyatakan bahwa pasukannya menyerang lokasi radar pengawasan di kawasan tersebut sebagai tindakan mempertahankan diri dari serangan maritim lanjutan. Militer AS mengklaim bahwa sebelumnya mereka telah menembak jatuh empat drone serang satu arah yang diluncurkan Iran menuju Selat Hormuz, jalur perairan strategis yang menjadi urat nadi perdagangan energi dunia.
“Drone-drone serang itu menimbulkan ancaman langsung terhadap lalu lintas maritim regional,” demikian bunyi pernyataan CENTCOM. Serangan terhadap instalasi radar Iran, lanjut pernyataan itu, bertujuan untuk mencegah serangan lebih lanjut. Peristiwa ini terjadi pada Jumat (5/6) waktu setempat dan menjadi eskalasi terbaru yang mengancam gencatan senjata yang telah disepakati pada 8 April lalu.
Menanggapi serangan tersebut, Iran menyatakan bahwa angkatan bersenjatanya telah merespons dengan cara yang waspada, tegas, dan proporsional. Meskipun demikian, pernyataan resmi dari Teheran tidak merinci bentuk respons yang dimaksud. Ketegangan antara kedua negara di kawasan Teluk Persia kembali memanas, mengancam stabilitas keamanan maritim di salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia.
Artikel Terkait
CFD Rasuna Said Kembali Digelar Mulai Minggu Besok, Dishub Siapkan 10 Rute Alternatif
Bung Karno Lahir dengan Nama Kusno, Berganti demi Kesehatan dan Keberuntungan
Serangan Udara Israel Tewaskan 10 Warga Gaza, Termasuk Komandan Hamas
Dinas Kebudayaan DKI Hadirkan Ondel-Ondel dan Permainan Tradisional di Car Free Day Rasuna Said