Bung Karno Lahir dengan Nama Kusno, Berganti demi Kesehatan dan Keberuntungan

- Minggu, 07 Juni 2026 | 05:30 WIB
Bung Karno Lahir dengan Nama Kusno, Berganti demi Kesehatan dan Keberuntungan

Presiden pertama Republik Indonesia, yang kelak dikenal sebagai Bung Karno, lahir pada 6 Juni 1901 di Surabaya, Jawa Timur, dari pasangan Raden Soekemi Sosrodihardjo dan Ida Ayu Nyoman Rai. Namun, nama yang melekat di hati rakyat Indonesia itu bukanlah nama pertama yang disematkan kepadanya. Sebelum berganti menjadi Soekarno, ia memiliki nama Kusno Sosrodihardjo.

Semasa kecil, Kusno sering jatuh sakit. Kedua orang tuanya kemudian memutuskan mengganti namanya menjadi Soekarno, mengikuti kepercayaan tradisi Jawa yang meyakini bahwa pergantian nama dapat membawa peruntungan dan kesehatan yang lebih baik. Di masa perjuangan kemerdekaan, sosoknya lebih akrab disapa Bung Karno, panggilan yang merepresentasikan kedekatannya dengan rakyat.

Dalam buku otobiografinya yang dituturkan langsung kepada Cindy Adams, berjudul Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, kelahiran Soekarno diceritakan dengan berbagai fenomena yang dianggapnya sebagai pertanda. Ia memandang tanggal kelahirannya 6 bulan 6 sebagai sesuatu yang istimewa.

"Ketika aku lahir, saat itu bukan hanya awal dari hari yang baru. Tetapi juga awal dari abad yang baru. Aku dilahirkan pada tahun 1901," ujar Soekarno dalam buku tersebut, sebagaimana dikutip pada Sabtu, 6 Juni 2026.

Lebih lanjut, ia menambahkan, "Hari lahirku ditandai oleh angka serba enam. Tanggal 6 Juni. Aku bernasib sangat baik dengan dilahirkan di bawah bintang Gemini, lambang kembar."

Di sisi lain, Soekarno juga mengaitkan kelahirannya dengan peristiwa alam besar. Ia merujuk pada letusan dahsyat Gunung Kelud yang terjadi pada 22 hingga 23 Mei 1901, hanya beberapa hari sebelum ia lahir. Baginya, fenomena tersebut turut mewarnai awal perjalanan hidupnya yang kelak mengubah sejarah bangsa.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar