"Saya kehilangan hampir semuanya dan saya tidak tahu harus pergi ke mana," ujarnya, terdengar putus asa.
Untuk menyelamatkan yang tersisa, keluarganya terpaksa memindahkan anak dan cucu-cucu ke rumah kerabat yang lebih aman. Situasi yang benar-benar di luar kendali.
"Kami benar-benar kehilangan kata-kata. Semoga Tuhan membantu kami," tambah Natalia.
Memang, hujan lebat adalah hal biasa di Angola saat musim penghujan tiba. Namun begitu, para ilmuwan punya catatan penting. Mereka meyakini perubahan iklim buatan manusia telah memperbesar peluang durasi dan intensitas cuaca ekstrem semacam ini. Artinya, bencana bisa lebih lama dan lebih parah.
Dampaknya bahkan merembet ke negara tetangga. Di Namibia, Sungai Zambezi meluap dengan sangat cepat. Ribuan orang yang hidup di tepiannya terpaksa meninggalkan rumah mereka demi keselamatan.
Ketinggian air dilaporkan mencapai angka yang mengkhawatirkan: sekitar 6,8 meter. Padahal, batas normalnya hanya empat meter. Menghadapi keadaan darurat ini, pihak berwenang bergerak cepat. Mereka telah memindahkan penduduk ke sembilan kamp sementara. Salah satu kamp bahkan menampung lebih dari 2.700 pengungsi.
Artikel Terkait
Mantan Dirut PPI Ajukan PK ke MA Meski Sudah Dieksekusi ke Lapas
Lefundes Bawa Borneo Taklukkan Madura, Tapi Doakan Mantan Klubnya Bangkit
Serangan Israel di Lebanon Tewaskan Tiga Warga Sipil, Rusak Rumah Sakit di Tyre
Inter Milan Hajar AS Roma 5-2, Posisi Puncak Serie A Makin Kokoh