Konflik Timur Tengah Paksa Industri Plastik Nasional Hitung Ulang Biaya Produksi

- Senin, 06 April 2026 | 05:15 WIB
Konflik Timur Tengah Paksa Industri Plastik Nasional Hitung Ulang Biaya Produksi

Konflik di Timur Tengah memaksa pelaku industri plastik di tanah air untuk berpikir ulang. Mereka kini harus menghitung kembali biaya produksinya, tak lain karena gangguan pada rantai pasokan bahan baku utama. Mau tak mau, perusahaan-perusahaan ini mulai melirik negara-negara lain sebagai sumber alternatif.

Fajar Budiono, Sekjen Inaplas, menjelaskan bahwa selama ini pengiriman nafta dari kawasan Timur Tengah relatif cepat. "Butuh waktu cuma 10 sampai 15 hari saja," ujarnya.

Namun begitu, situasinya bakal jauh berbeda jika sumbernya dari luar kawasan itu. Waktu pengirimannya bisa melonjak drastis.

"Kalau di luar Middle East butuh waktu 50 hari paling cepat. Sehingga kita harus hitung ulang karena rantai pasoknya pasti akan tambah panjang," kata Fajar kepada IDXChannel, Minggu (5/4/2026).

Artinya, semua komponen biaya perlu dikalkulasi lagi. Mulai dari soal penyimpanan stok, struktur harga yang berubah, sampai pertimbangan kualitas bahan baku yang mungkin berbeda. Ini bukan perkara sepele.

Di sisi lain, ketidakpastian ini membuat sejumlah produsen mengambil sikap hati-hati. Mereka enggan menimbun stok bahan baku terlalu banyak, khawatir terperangkap dalam fluktuasi harga ekstrem seperti yang pernah terjadi di masa lalu.

Fajar mengingatkan pengalaman pahit itu. "Kalau kami lihat tahun 2008 itu harga (bahan baku plastik) bisa sampai USD2.100 per metrik ton, tapi tiba-tiba besok turun jadi USD1.200. Sehingga yang pegang stok rugi banyak dan banyak yang tutup," jelasnya.

Itulah yang coba dihindari sekarang. Dalam kondisi yang sulit diprediksi dan sepenuhnya di luar kendali mereka, bermain aman seringkali jadi pilihan paling masuk akal.

Menanggapi situasi ini, pemerintah melalui Kementerian Perdagangan dikabarkan sedang mengupayakan langkah-langkah strategis. Diversifikasi negara pemasok bahan baku plastik menjadi salah satu fokusnya. Tak hanya itu, upaya mencari bahan baku alternatif pengganti nafta juga disebut sedang dalam proses.

Langkah-langkah itu diharapkan bisa meredam gejolak dan membuka lebih banyak opsi bagi industri dalam negeri.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler