Konflik di Timur Tengah memaksa pelaku industri plastik di tanah air untuk berpikir ulang. Mereka kini harus menghitung kembali biaya produksinya, tak lain karena gangguan pada rantai pasokan bahan baku utama. Mau tak mau, perusahaan-perusahaan ini mulai melirik negara-negara lain sebagai sumber alternatif.
Fajar Budiono, Sekjen Inaplas, menjelaskan bahwa selama ini pengiriman nafta dari kawasan Timur Tengah relatif cepat. "Butuh waktu cuma 10 sampai 15 hari saja," ujarnya.
Namun begitu, situasinya bakal jauh berbeda jika sumbernya dari luar kawasan itu. Waktu pengirimannya bisa melonjak drastis.
"Kalau di luar Middle East butuh waktu 50 hari paling cepat. Sehingga kita harus hitung ulang karena rantai pasoknya pasti akan tambah panjang," kata Fajar kepada IDXChannel, Minggu (5/4/2026).
Artinya, semua komponen biaya perlu dikalkulasi lagi. Mulai dari soal penyimpanan stok, struktur harga yang berubah, sampai pertimbangan kualitas bahan baku yang mungkin berbeda. Ini bukan perkara sepele.
Artikel Terkait
Pemerintah Saudi Perketat Pengawasan, Indonesia Ingatkan Waspada Modus Haji Ilegal
Kemenhaj dan KJRI Jeddah Ingatkan WNI Waspada Modus Haji Ilegal
Danantara Akuisisi Mandiri Investasi Rp1,02 Triliun untuk Kuatkan Ekosistem BUMN
Pemerintah dan BUMN Bangun 324 Hunian Baru di Kawasan Senen