Di sisi lain, ketidakpastian ini membuat sejumlah produsen mengambil sikap hati-hati. Mereka enggan menimbun stok bahan baku terlalu banyak, khawatir terperangkap dalam fluktuasi harga ekstrem seperti yang pernah terjadi di masa lalu.
Fajar mengingatkan pengalaman pahit itu. "Kalau kami lihat tahun 2008 itu harga (bahan baku plastik) bisa sampai USD2.100 per metrik ton, tapi tiba-tiba besok turun jadi USD1.200. Sehingga yang pegang stok rugi banyak dan banyak yang tutup," jelasnya.
Itulah yang coba dihindari sekarang. Dalam kondisi yang sulit diprediksi dan sepenuhnya di luar kendali mereka, bermain aman seringkali jadi pilihan paling masuk akal.
Menanggapi situasi ini, pemerintah melalui Kementerian Perdagangan dikabarkan sedang mengupayakan langkah-langkah strategis. Diversifikasi negara pemasok bahan baku plastik menjadi salah satu fokusnya. Tak hanya itu, upaya mencari bahan baku alternatif pengganti nafta juga disebut sedang dalam proses.
Langkah-langkah itu diharapkan bisa meredam gejolak dan membuka lebih banyak opsi bagi industri dalam negeri.
Artikel Terkait
Pemerintah Saudi Perketat Pengawasan, Indonesia Ingatkan Waspada Modus Haji Ilegal
Kemenhaj dan KJRI Jeddah Ingatkan WNI Waspada Modus Haji Ilegal
Danantara Akuisisi Mandiri Investasi Rp1,02 Triliun untuk Kuatkan Ekosistem BUMN
Pemerintah dan BUMN Bangun 324 Hunian Baru di Kawasan Senen