JAKARTA – Ancaman bagi Indonesia di tengah gejolak Perang Iran 2026 ternyata tak cuma soal ekonomi. Ya, lonjakan harga minyak dan tekanan pada APBN memang nyata. Tapi ada bahaya lain yang lebih dalam dan mungkin luput dari perhatian: Indonesia perlahan menghilang dari peta persepsi global.
Peneliti Emaridial Ulza dari Pusat Studi Politik dan Sosial menyoroti fenomena ini dalam laporan strategis terbarunya. Ia menyebutnya sebagai strategic invisibility trap jebakan ketidaktampakan strategis.
“Ini bukan soal Indonesia dipandang buruk, tetapi justru tidak hadir dalam persepsi global sama sekali,”
kata Emaridial, Senin (6/4/2026).
Laporan setebal lebih dari 35 halaman itu mengumpulkan data dari ratusan sumber internasional. Temuannya cukup mengkhawatirkan: di era banjir informasi ini, negara yang absen dari narasi global cenderung diabaikan. Baik dalam hal investasi, diplomasi, maupun pengambilan keputusan penting.
Dampak yang Mengintai
Menurut Emaridial, dampaknya jauh melampaui sekadar citra. Efeknya bisa merembet ke mana-mana. Ambil contoh investasi asing. Dari sudut pandang international marketing dan neurosains, investor global tak hanya membaca angka. Mereka juga terpengaruh oleh narasi yang terus bergaung dan melekat di memori kolektif.
“Negara yang tidak aktif membangun narasi akan kehilangan perhatian, meskipun secara fundamental kuat,”
jelas Emaridial, yang juga Founding Director Global Trust Intelligence (GTI).
Lalu ada potensi naiknya biaya pinjaman dan pelarian modal. Logikanya sederhana: jika persepsi global melemah, risiko dianggap lebih tinggi. Ujung-ujungnya, biaya pendanaan pun membengkak.
Posisi tawar geopolitik juga bisa tergerus. Lihat saja bagaimana krisis energi global mendorong negara-negara ASEAN bernegosiasi dari posisi yang lebih lemah, terutama terhadap China di Laut China Selatan. Pergeseran ini berpotensi mengganggu stabilitas wilayah strategis Indonesia, seperti Natuna.
Terakhir, Indonesia bisa kehilangan momentum dalam kompetisi global yang kini sangat ditentukan oleh narasi. Negara yang tak terlihat akan ditinggal oleh pesaing yang lebih lihai membangun pengaruh, bahkan di tengah konflik sekalipun.
Sebagai perbandingan, Iran tetap jadi bahan pembicaraan dunia meski sedang berperang. Sementara Indonesia, dengan populasi raksasa dan ekonomi yang stabil, nyaris tak disebut sebagai aktor penting.
Tekanan Ekonomi yang Bertumpuk
Laporan itu juga menyentuh soal tekanan ekonomi yang berlapis, atau yang disebut Keynesian Triple Squeeze. Tekanan ini terjadi secara bersamaan pada tiga pilar utama: lapangan kerja, suku bunga, dan likuiditas.
“Kondisi ini berbeda dari krisis sebelumnya karena tidak ada sektor yang benar-benar bisa menjadi penyangga,”
ungkap Emaridial.
Aset yang Belum Digarap Maksimal
Di sisi lain, sebenarnya Indonesia punya banyak modal. Keberhasilan penghimpunan pajak ekonomi digital, misalnya, menempatkan Indonesia di tiga besar dunia. Program Makan Bergizi Gratis juga merupakan investasi besar untuk sumber daya manusia.
Sayangnya, keunggulan-keunggulan itu belum sampai terdengar ke telinga dunia internasional. Komunikasinya kurang greget.
“Di era sekarang, narasi bukan pelengkap, tetapi penentu arah ekonomi. Jika sebuah negara tidak mendefinisikan dirinya sendiri, maka dunia tidak akan melihatnya sebagai aktor penting,”
tegasnya.
Di Persimpangan Jalan
Laporan yang menggunakan pendekatan Global Trust Intelligence ini pada intinya menegaskan satu hal: Indonesia sedang di persimpangan. Pilihannya sederhana tapi berat: tetap menjadi penonton yang bisu dalam percakapan global, atau bangkit dan membentuk narasi agar diperhitungkan. Sebab dalam panggung dunia saat ini, kalau kamu tidak terlihat, kamu dianggap tidak ada.
Artikel Terkait
BEI Rombak Indeks Saham Syariah, Tujuh Saham Baru Masuk JII per Mei 2026
Nikkei Cetak Rekor Tertinggi Ditopang Saham Chip, Investor Pilih Sektor AI
Anak Usaha Chandra Asri Resmi Kelola Pelabuhan di Cilegon Perkuat Logistik Industri Petrokimia
Serangan AS di Iran Picu Lonjakan Harga Minyak Brent, Selat Hormuz Kembali Terancam