Aksi Solidaritas Palestina dan Doa untuk TNI Gugur Warnai CFD Bundaran HI

- Minggu, 05 April 2026 | 09:45 WIB
Aksi Solidaritas Palestina dan Doa untuk TNI Gugur Warnai CFD Bundaran HI

Suasana Car Free Day di Bundaran HI, Jakarta Pusat, pagi itu tak seperti biasa. Sejak sekitar pukul setengah delapan, sekelompok massa sudah berkumpul. Mereka membentangkan spanduk putih bertuliskan dukungan untuk Palestina. Yang menarik perhatian, di antara pesan-pesan itu, ada juga doa untuk tiga prajurit TNI yang gugur di Lebanon.

Menurut sejumlah saksi, aksi ini langsung menyita perhatian pengunjung CFD yang lain. Banyak yang berhenti, melihat, lalu mengangkat ponsel untuk mengabadikan momen. Beberapa bahkan mendekat. Ada yang ikut membubuhkan tanda tangan di atas kain spanduk, ada pula yang dengan khidmat meletakkan setangkai mawar di dekat foto ketiga prajurit tersebut.

Bendera-bendera berkibar: merah putih, Palestina, dan Iran. Poster-poster selebaran bertebaran, isinya kecaman keras terhadap Israel. Suasana terasa paduan antara solidaritas dan kemarahan.

"Stop genocide in Palestine. Zionisme = kolonialisme = imperialisme = penjajahan. Harus dilawan, Pak Presiden!"

Begitu bunyi salah satu spanduk yang paling mencolok. Di spanduk lain, tulisannya lebih spesifik: "Israel bunuh prajurit TNI, saatnya Indonesia tegas."

Ali Assegaf, salah satu koordinator aksi, menjelaskan bahwa gerakan ini diinisiasi oleh Free Palestine Network (FPN) dan digelar serentak di beberapa titik.

"Kita suarakan nurani. Nurani manusia sama, agamanya apapun nuraninya sama, ras apapun nuraninya sama," ujarnya.

"Bahwa perjuangan nurani kalau dia sampai ditikam, dia akan menghidupkan sel-sel hidup yang tidur di seluruh Indonesia. Karena kita bicara tentang TNI yang di UNIFIL tidak diberi kewenangan untuk membawa senjata melawan, tapi dia dibunuh oleh Israel."

Ali menegaskan, aksi ini bukan sekadar ritual doa. Ada maksi yang lebih dalam. Mereka ingin sentuhan emosional ini merasuk ke dalam hati setiap orang yang lewat.

"Bukan hanya mendoakan. Kita ingin menjadi mereka sekalipun dengan darahnya. Kenapa? Kita ingin nurani ini hidup," jelasnya lagi. "Bangsa ini juga dulu dilahirkan oleh jutaan darah untuk merdeka. Tidak mungkin hari ini kita punya tiga TNI yang berkorban lalu kita diam saja."

Pagi itu di CFD, suara lalu lalang kendaraan yang hilang sejenak digantikan oleh suara lain: suara protes, suara duka, dan suara harapan yang ditumpahkan di atas selembar kain putih.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar