Miliarder Eric Sprott Tempatkan 98 Persen Kekayaannya di Emas dan Perak, Yakin Harganya Akan Melonjak

- Minggu, 24 Mei 2026 | 04:35 WIB
Miliarder Eric Sprott Tempatkan 98 Persen Kekayaannya di Emas dan Perak, Yakin Harganya Akan Melonjak

Seorang investor legendaris di bidang logam mulia, Eric Sprott, kembali menjadi sorotan dunia setelah diketahui menempatkan hampir seluruh kekayaannya, yakni sekitar 98 persen, pada emas dan perak. Pria berusia 81 tahun ini tercatat memiliki total kekayaan lebih dari 3,3 miliar dolar AS, atau setara dengan Rp58,42 triliun berdasarkan kurs Rp17.710 per dolar AS, demikian menurut data Forbes.

Langkah berani Sprott dalam mengalokasikan mayoritas asetnya pada logam mulia bukanlah keputusan mendadak. Ia telah memulai investasi di sektor ini sejak dekade 1980-an. Dalam dua tahun terakhir, nilai investasinya melonjak hampir empat kali lipat, didorong oleh reli harga emas dan perak di pasar global.

Ketika diwawancarai Forbes pada akhir Januari lalu di San Jose, Kosta Rika, Sprott tetap menunjukkan optimisme meskipun harga logam mulia mengalami fluktuasi yang tajam. Saat itu, harga perak sempat menyentuh rekor 100 dolar AS per ons sebelum akhirnya turun drastis. Namun, ia justru melihat peluang besar di balik gejolak tersebut.

“Baik saham emas maupun perak masih sangat undervalued. Saya pikir harganya akan naik jauh lebih tinggi. Perak bisa mencapai 200 dolar AS bahkan 300 dolar AS per ons. Emas bisa menyentuh 10.000 dolar AS,” ujar Sprott dalam wawancara tersebut.

Beberapa hari setelah pernyataan itu, harga perak anjlok sepertiga menjadi 76 dolar AS per ons, sementara emas turun di bawah 5.000 dolar AS. Meski demikian, Sprott mengaku tidak terganggu dengan gejolak tersebut. Menurutnya, volatilitas harga merupakan hal yang wajar di tengah meningkatnya konflik global dan ketidakpastian ekonomi dunia yang mendorong investor mencari aset aman.

Sprott juga menilai lonjakan harga emas dan perak dipicu oleh kebijakan pemerintah yang dianggap terlalu boros dalam mencetak uang dan meningkatkan belanja negara. “Saya rasa semua orang tahu pemerintah di berbagai negara terlalu tidak bertanggung jawab dalam sistem keuangan, mulai dari pencetakan uang hingga pengeluaran berlebihan,” ucapnya.

Keyakinan itulah yang membuat Sprott tidak hanya menimbun emas batangan, tetapi juga membeli saham di lebih dari 200 perusahaan tambang emas dan perak. Meskipun bukan seorang ahli geologi, ia mengandalkan kemampuannya membaca angka dan valuasi perusahaan tambang yang dianggap murah. “Saya tidak tahu soal batuan, tapi saya paham angka. Kalau potensi keuntungannya besar, saya siap mengambil risiko,” tuturnya.

Saat ini, Sprott tercatat memiliki investasi di sekitar 120 perusahaan tambang, meskipun sebagian besar kekayaannya terkonsentrasi di kurang dari 10 perusahaan utama. Salah satu investasi terbesarnya adalah Hycroft Mining Holding Corp, dengan nilai kepemilikan sekitar 1,3 miliar dolar AS. Ia mulai masuk ke perusahaan tersebut pada 2019 ketika tambang emas dan perak di Nevada Utara belum beroperasi dan terlilit utang besar. Sprott kemudian menyuntikkan dana lebih dari 360 juta dolar AS untuk membantu pembiayaan perusahaan. Langkah itu berbuah manis setelah saham Hycroft melonjak lebih dari 1.400 persen sejak awal 2025.

Di sisi lain, investasi besar lainnya adalah Discovery Silver Corporation yang berbasis di Ontario, Kanada. Sprott mulai membeli saham perusahaan tersebut pada 2019 dan terus menambah kepemilikan hingga mencapai 25 persen. Nilai investasinya ikut melejit setelah Discovery Silver mengakuisisi proyek tambang emas besar di Ontario pada Januari 2025. Ke depan, Sprott masih sangat yakin terhadap prospek perak karena permintaan global terus meningkat sementara pasokan terbatas.

Berdasarkan data Silver Institute, pasar perak dunia telah mengalami defisit selama lima tahun terakhir karena permintaan selalu lebih tinggi dibanding produksi. Permintaan perak tidak hanya datang dari investor, tetapi juga dari industri teknologi seperti baterai, elektronik, kendaraan listrik, hingga panel surya.

Selain emas dan perak, Sprott juga mulai melirik mangan, logam yang dinilai berpotensi besar digunakan dalam baterai kendaraan listrik generasi baru. Ia bahkan telah membeli saham di sejumlah perusahaan tambang mangan setelah membaca laporan Samsung pada akhir 2024 terkait pengembangan baterai kendaraan listrik berbasis mangan.

Meski kondisi geopolitik dunia memanas, termasuk konflik di Iran, Sprott mengaku tetap tenang dan tidak tertarik mengejar saham teknologi populer seperti Nvidia, Microsoft, maupun Apple. Sebaliknya, ia memilih tetap fokus pada logam mulia seperti yang sudah dilakukannya selama lebih dari 40 tahun terakhir.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar