Piala Dunia 2026 belum genap sebulan berlangsung, namun kepemimpinan Presiden FIFA Gianni Infantino sudah kembali menjadi sorotan. Berbagai kontroversi menghiasi perhelatan akbar ini, mulai dari keputusan wasit yang dianggap tidak adil, pencabutan sanksi pemain Amerika Serikat, hingga polemik penentuan tuan rumah kualifikasi zona Asia.
Sejumlah federasi dan pelaku sepak bola mulai mempertanyakan konsistensi FIFA dalam menjaga prinsip netralitas dan integritas kompetisi. Sorotan terbaru datang dari laga babak 16 besar antara Argentina dan Mesir. Pertandingan yang berakhir dengan kemenangan Argentina 3-2 itu diwarnai keputusan wasit yang memicu perdebatan.
Mesir yang sempat unggul dua gol harus tersingkir setelah Argentina bangkit. Beberapa keputusan menjadi sorotan, termasuk hadiah penalti untuk Argentina di babak pertama dan keputusan VAR yang menganulir gol Mostafa Ziko pada babak kedua. Pelatih Mesir, Hossam Hassan, secara terbuka mempertanyakan kepemimpinan pertandingan.
"Di sepak bola, banyak hal yang bisa terjadi di dalam maupun di luar lapangan. Namun pertandingan tadi sangatlah tidak adil bagi kami," ujar Hassan.
Hassan bahkan melontarkan tudingan lebih jauh dengan menyebut FIFA memiliki kepentingan agar Argentina dan Lionel Messi terus bertahan di turnamen. Menurutnya, keberadaan Messi memiliki nilai komersial yang besar sehingga dianggap menguntungkan penyelenggara.
"Saya rasa ini semua ada hubungannya dengan uang. Mereka ingin Messi bisa terus bermain hingga akhir turnamen ini," katanya. Pernyataan itu memicu perdebatan luas, namun hingga kini FIFA belum memberikan tanggapan resmi.
Kontroversi Pencabutan Sanksi
Kontroversi lain muncul saat FIFA memutuskan menangguhkan hukuman satu pertandingan penyerang Amerika Serikat, Folarin Balogun. Balogun mendapat kartu merah saat melawan Bosnia dan Herzegovina pada babak 32 besar. Berdasarkan regulasi, ia seharusnya menjalani larangan bermain saat AS menghadapi Belgia di babak 16 besar. Namun dua hari sebelum pertandingan, FIFA menangguhkan sanksi tersebut sehingga Balogun tetap tampil.
Keputusan itu memicu keberatan dari Federasi Sepak Bola Belgia (RBFA). Namun gugatan mereka ditolak FIFA dengan alasan RBFA tidak memiliki kedudukan hukum untuk mengajukan banding. Presiden FIFA Gianni Infantino kemudian memberikan penjelasan. Ia menegaskan seluruh keputusan disiplin berada di tangan badan yudisial FIFA yang bekerja secara independen.
"Badan yudisial FIFA bekerja secara independen tanpa campur tangan pihak mana pun. Independensi mereka sangat penting bagi kredibilitas dan integritas sepak bola," kata Infantino. Ia juga mengakui sempat menerima telepon dari Presiden AS Donald Trump terkait kasus Balogun, namun membantah adanya intervensi politik.
"Saya memang menerima telepon dari Presiden Donald Trump sebagaimana saya juga menerima telepon dari berbagai kepala negara lainnya. Namun keputusan tetap diambil sesuai mekanisme badan yudisial FIFA," ujarnya. Meski demikian, Trump melalui akun Truth Social mengucapkan terima kasih kepada FIFA karena membatalkan apa yang disebutnya sebagai "ketidakadilan besar".
Polemik Tuan Rumah Kualifikasi
Kontroversi di bawah kepemimpinan Infantino tidak hanya terjadi di Piala Dunia. Menjelang putaran keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia, persoalan lain mencuat. Asosiasi Sepak Bola Uni Emirat Arab (UEA FA) secara resmi meminta FIFA dan Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) bersikap netral dalam menentukan tuan rumah putaran keempat. Enam negara dipastikan tampil: Indonesia, Qatar, Arab Saudi, Irak, Oman, dan UEA. Namun sebelum drawing, Qatar dan Arab Saudi santer disebut sebagai kandidat terkuat menjadi tuan rumah.
Dalam surat resmi, UEA FA meminta proses penentuan tuan rumah dilakukan secara adil, transparan, dan mengacu pada regulasi. Isu ini juga menjadi perhatian publik Indonesia. Apabila putaran keempat dimainkan di Qatar atau Arab Saudi, jalan Timnas Indonesia untuk merebut tiket otomatis ke Piala Dunia dinilai semakin berat. Hingga kini FIFA maupun AFC belum mengumumkan tuan rumah secara resmi. Kepastian baru akan diketahui pada drawing di Osaka, Jepang, 17 Juli mendatang.
Rangkaian polemik ini membuat kepemimpinan Gianni Infantino kembali menjadi bahan perdebatan. Di satu sisi, FIFA menegaskan seluruh keputusan diambil berdasarkan regulasi dan mekanisme independen. Namun di sisi lain, kritik dari federasi, pelatih, hingga publik menunjukkan bahwa setiap keputusan badan sepak bola dunia itu kini berada di bawah sorotan yang semakin tajam.
Artikel Terkait
Messi Catat Rekor Buruk Penalti di Piala Dunia 2026
Di Balik Kontroversi Piala Dunia: Ketegangan Politik dan Masa Depan FIFA
Francois Letexier Kembali Jadi Sorotan Usai Pimpin Laga Argentina Vs Mesir
Perempat Final Piala Dunia 2026: Enam Wakil Eropa Dominasi, Argentina dan Maroko Jadi Penantang