JAKARTA Rencana pemerintah mencari sumber baru bahan baku plastik dari India, Afrika, dan Amerika justru memantik kekhawatiran di kalangan industri. Asosiasi Industri Olefin Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) menyoroti risiko pada rantai distribusi, terutama soal waktu pengiriman yang bakal molor jauh. Pemicu pencarian sumber baru ini adalah ketegangan geopolitik antara AS-Israel dan Iran, yang bikin pasokan dari Timur Tengah makin sulit dan berisiko.
Fajar Budiono, Sekjen Inaplas, menjelaskan bahwa selama ini pasokan nafta dari kawasan Timur Tengah relatif cepat. Cuma butuh 10 sampai 15 hari saja. Nah, kalau ambil dari luar sana? Bisa-bisa waktu tempuhnya melonjak.
"Kalau di luar Middle East butuh waktu 50 hari paling cepat. Sehingga kita harus hitung ulang karena rantai pasoknya pasti akan tambah panjang," ucap MURIANETWORK.COM, Minggu (5/4/2026).
Menurutnya, perhitungan ulang itu nggak main-main. Bakal berdampak ke seluruh lini produksi, yang ujung-ujungnya berimbas pada biaya. Produsenlah yang nanti menanggung beban ekonomi tambahan itu.
"Semuanya pasti akan berubah," tuturnya. "Mulai dari inventory, price structure, sampai kualitasnya sendiri juga bakal lebih beragam karena sumbernya jadi banyak. Alhasil, pilihan jenis barang yang bisa kita produksi malah bisa lebih terbatas."
Di sisi lain, para pelaku usaha sedang berusaha ekstra hati-hati. Mereka enggan mengambil risiko dengan menimbun stok bahan baku di saat harga sedang melambung tinggi seperti sekarang. Fajar bilang, pelajaran pahit dari krisis 1998 dan 2008 masih membekas.
"Lihat saja tahun 2008. Harga bahan baku plastik bisa mentok di 2.100 dolar AS per metrik ton, eh besoknya anjlok ke 1.200 dolar. Banyak yang gulung tikar karena kebanyakan stok. Situasi seperti itulah yang kami hindari sekarang. Ketidakpastian ini di luar kendali kita, nggak ada yang bisa prediksi kapan berubahnya," jelasnya.
Sementara itu, upaya diversifikasi memang sedang digenjot. Kementerian Perdagangan disebut sedang menggarap pencarian pemasok dari negara-negara selain Timur Tengah. Para produsen sendiri juga dikabarkan sedang memproses opsi bahan baku alternatif pengganti nafta.
Latar belakang semua gerakan ini adalah lonjakan harga kemasan plastik di pasaran yang hampir mencapai 50 persen. Kenaikan itu sudah mulai dikeluhkan banyak pedagang, mulai dari pasar tradisional sampai usaha mikro dan kecil di pertokoan. Mereka yang paling merasakan dampak langsung dari gejolak di hulu industri ini.
Artikel Terkait
Vardy Kembali Alami Degradasi, Cremonese Resmi Turun ke Serie B
Nico Paz Tolak Kembali ke Real Madrid, Pilih Bertahan di Como
BRI Salurkan 5.000 Hewan Kurban di Momentum Iduladha 2026
Pentagon Revisi Data Korban Operasi Epic Fury: 14 Tentara AS Tewas dalam Konflik dengan Iran