JAKARTA Rencana pemerintah mencari sumber baru bahan baku plastik dari India, Afrika, dan Amerika justru memantik kekhawatiran di kalangan industri. Asosiasi Industri Olefin Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) menyoroti risiko pada rantai distribusi, terutama soal waktu pengiriman yang bakal molor jauh. Pemicu pencarian sumber baru ini adalah ketegangan geopolitik antara AS-Israel dan Iran, yang bikin pasokan dari Timur Tengah makin sulit dan berisiko.
Fajar Budiono, Sekjen Inaplas, menjelaskan bahwa selama ini pasokan nafta dari kawasan Timur Tengah relatif cepat. Cuma butuh 10 sampai 15 hari saja. Nah, kalau ambil dari luar sana? Bisa-bisa waktu tempuhnya melonjak.
"Kalau di luar Middle East butuh waktu 50 hari paling cepat. Sehingga kita harus hitung ulang karena rantai pasoknya pasti akan tambah panjang," ucap MURIANETWORK.COM, Minggu (5/4/2026).
Menurutnya, perhitungan ulang itu nggak main-main. Bakal berdampak ke seluruh lini produksi, yang ujung-ujungnya berimbas pada biaya. Produsenlah yang nanti menanggung beban ekonomi tambahan itu.
"Semuanya pasti akan berubah," tuturnya. "Mulai dari inventory, price structure, sampai kualitasnya sendiri juga bakal lebih beragam karena sumbernya jadi banyak. Alhasil, pilihan jenis barang yang bisa kita produksi malah bisa lebih terbatas."
Artikel Terkait
Konflik Timur Tengah Paksa Industri Plastik Nasional Hitung Ulang Biaya Produksi
Mentan Siapkan Lima Strategi Mitigasi Hadapi Ancaman El Nino 2026
PMI Mesir Anjlok ke Level Terendah, Sektor Swasta Non-Migas Tertekan Akibat Perang
Polda Metro Jaya Selidiki Insiden Kejar-kejaran dan Senggolan Mobil di Tol Pelabuhan