Departemen Pertahanan Amerika Serikat, Pentagon, merevisi jumlah personel militernya yang menjadi korban dalam konflik melawan Iran pada periode Februari hingga April lalu. Data terbaru yang dirilis pada Selasa (26/5/2026) mencatat peningkatan jumlah tentara yang gugur selama Operasi Epic Fury menjadi 14 orang.
Menurut keterangan resmi Pentagon, penambahan satu korban jiwa tersebut disebabkan oleh faktor di luar pertempuran langsung. Seorang prajurit darat dilaporkan meninggal dunia pada Mei akibat luka-luka yang dideritanya sebelumnya. Namun, pihak militer tidak merinci lebih lanjut mengenai penyebab kecelakaan yang menimpa prajurit tersebut, termasuk identitasnya yang juga tidak diungkapkan ke publik.
Sebelumnya, pada April, Pentagon menyatakan bahwa jumlah personel AS yang tewas dalam operasi militer tersebut mencapai 13 orang, sementara 415 lainnya mengalami luka-luka. Konflik yang berlangsung sejak 28 Februari itu akhirnya mereda setelah Amerika Serikat dan Iran menyepakati gencatan senjata selama dua pekan pada 7 April waktu setempat. Kesepakatan tersebut diumumkan langsung oleh Presiden Donald Trump.
Sementara itu, Trump kemudian kembali mengumumkan perpanjangan masa gencatan senjata tanpa batas waktu yang ditentukan. Meskipun terikat dalam perjanjian penghentian permusuhan, militer AS masih melancarkan serangan sporadis ke wilayah-wilayah Iran dengan dalih tindakan pembelaan diri. Situasi ini menunjukkan bahwa ketegangan antara kedua negara belum sepenuhnya mereda meskipun sudah ada kesepakatan damai.
Artikel Terkait
BRI Salurkan 5.000 Hewan Kurban di Momentum Iduladha 2026
Harga Emas Batangan di Pegadaian Turun saat Iduladha, Antam Terkoreksi ke Rp2,897 Juta per Gram
Masjid At Taqwa Bekasi Gunakan Alat Perebah Sapi Rakitan Sendiri untuk Kurban Iduladha
Libur Iduladha, Ancol Dipenuhi Ribuan Wisatawan Sejak Pagi Hari