Kemenag Sebut Enam Lokasi Mustajab untuk Berdoa Selama Ibadah Haji

- Rabu, 27 Mei 2026 | 16:15 WIB
Kemenag Sebut Enam Lokasi Mustajab untuk Berdoa Selama Ibadah Haji

Ibadah haji bukan sekadar perjalanan fisik menembus jarak dan waktu, melainkan juga perjalanan batin untuk kembali menjadi pribadi yang lebih bersih, lebih ikhlas, dan lebih dekat kepada Sang Pencipta. Di balik setiap rangkaian ritual, tersimpan harapan akan masa depan yang lebih baik. Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia mencatat setidaknya enam lokasi yang diyakini sebagai tempat mustajab untuk memanjatkan doa selama menjalani ibadah haji.

Salah satu tempat yang paling dikenal adalah Multazam, yakni bagian dinding Ka’bah yang terletak di antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah. Lokasi ini dipercaya sebagai titik di mana doa tidak tertolak, sehingga banyak jemaah menempelkan dada, wajah, dan kedua tangan mereka sambil berdoa dengan khusyuk. Kata Multazam sendiri berasal dari bahasa Arab iltazam yang berarti “melekat atau berpegang erat”. Dalam sebuah riwayat, disebutkan bahwa Rasulullah SAW menempelkan wajah dan dadanya di Multazam.

Tidak jauh dari Multazam, terdapat Hijr Ismail, yaitu area setengah lingkaran di samping Ka’bah yang dibatasi tembok rendah. Secara historis, tempat ini merupakan bagian dari bangunan Ka’bah. Karena itu, salat dan doa yang dilakukan di Hijr Ismail memiliki keutamaan tersendiri. Banyak jemaah memanfaatkan tempat ini untuk melaksanakan salat sunah dan memperbanyak doa. Rasulullah SAW bersabda bahwa jika seseorang ingin masuk ke dalam Ka’bah, maka salatlah di Hijr karena ia termasuk bagian dari Ka’bah.

Sementara itu, saat menjalankan tawaf, jemaah dianjurkan untuk memperbanyak doa, zikir, istigfar, dan membaca Al-Qur’an. Salah satu momen yang sangat dianjurkan adalah ketika berada di antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad. Di titik ini, Rasulullah SAW sering membaca doa: “Rabbanaa aatinaa fid dunyaa hasanah wa fil aakhirati hasanah wa qinaa ‘adzaaban naar.” Doa ini menjadi salah satu permohonan yang paling sering dipanjatkan oleh jemaah saat mengelilingi Baitullah.

Beranjak ke Padang Arafah, tempat ini menjadi puncak dari seluruh rangkaian ibadah haji. Wukuf di Arafah merupakan rukun haji yang paling utama, dan hari Arafah dikenal sebagai salah satu waktu terbaik untuk berdoa. Rasulullah SAW menyebut bahwa sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah. Pada momen inilah jutaan jemaah berkumpul, memohon ampunan kepada Allah SWT. Suasana haru dan kekhusyukan menyelimuti padang luas itu, karena banyak yang meyakini bahwa hari Arafah adalah kesempatan besar untuk memperbaiki kehidupan dan mendapatkan ampunan dosa.

Setelah meninggalkan Arafah, jemaah menuju Muzdalifah untuk bermalam dan mengumpulkan batu jumrah. Di tempat ini, Rasulullah SAW memperbanyak zikir dan doa, terutama setelah berhenti di Masy’aril Haram. Suasana malam yang tenang di Muzdalifah sering dimanfaatkan jemaah untuk bermuhasabah dan memperbanyak istigfar. Momen ini menjadi jeda spiritual sebelum melanjutkan perjalanan ke Mina.

Di Mina, Rasulullah SAW memberikan contoh bahwa setelah melempar jumrah pertama dan kedua, beliau berdiri lama menghadap kiblat sambil berdoa. Hal ini menunjukkan bahwa ibadah jumrah bukan sekadar aktivitas melempar batu, melainkan juga momen untuk memperbanyak doa dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Setiap lemparan batu mengandung makna perlawanan terhadap godaan setan, dan setiap doa yang dipanjatkan menjadi peneguhan hati untuk kembali ke fitrah yang suci.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar