Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Lalu Hadrian Irfani, menyoroti dugaan pemalsuan riset yang melibatkan warga negara Indonesia (WNI) dalam konferensi internasional di Denmark. Ia menilai kasus ini berpotensi mencoreng reputasi bangsa di kancah pendidikan global apabila terbukti kebenarannya.
“Kami tentu sangat prihatin atas dugaan skandal riset palsu yang melibatkan WNI dalam forum ilmiah internasional. Jika benar terdapat manipulasi data, pemalsuan identitas akademik, atau penggunaan AI untuk menghasilkan riset fiktif, maka hal itu bukan hanya melanggar etika akademik, tetapi juga dapat mencoreng nama baik Indonesia,” ujar Lalu kepada wartawan, Rabu (27/6/2026).
Menurut politikus tersebut, kasus yang tengah menjadi perbincangan masyarakat ini merupakan peringatan serius bagi dunia pendidikan nasional. Ia mendorong investigasi menyeluruh serta penegakan sanksi etik terhadap pihak-pihak yang terbukti melanggar.
“Kasus ini harus menjadi peringatan serius bagi dunia pendidikan tinggi dan riset nasional. Kami mendorong adanya investigasi dan penegakan sanksi etik apabila dugaan tersebut terbukti,” kata Lalu.
“Jangan sampai tindakan segelintir oknum merusak kepercayaan internasional terhadap para akademisi dan peneliti Indonesia yang selama ini bekerja dengan jujur dan profesional,” sambungnya.
Ia pun menekankan pentingnya penguatan pengawasan tata kelola integritas akademik oleh pemerintah, perguruan tinggi, dan lembaga riset. Menurut Lalu, Indonesia membutuhkan budaya akademik yang menjunjung tinggi kejujuran dan tanggung jawab.
“AI seharusnya menjadi alat bantu untuk memperkuat kualitas riset, bukan dipakai untuk memanipulasi karya ilmiah. Indonesia membutuhkan budaya akademik yang menjunjung tinggi kejujuran, tanggung jawab, dan meritokrasi agar reputasi pendidikan dan riset nasional tetap terjaga,” katanya.
Sementara itu, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto, menyatakan pihaknya memberikan perhatian khusus terhadap informasi yang berkembang. “Kemdiktisaintek memberikan perhatian terhadap informasi yang berkembang terkait dugaan pelanggaran integritas akademik dan etika penelitian yang melibatkan pihak yang menggunakan afiliasi institusi di Indonesia,” kata Brian saat dihubungi, Rabu (27/5/2026).
Brian menuturkan bahwa pihaknya tengah melakukan pendalaman terkait dugaan riset palsu tersebut. Proses ini dilakukan untuk memastikan fakta dan status WNI yang terlibat dalam forum ilmiah internasional itu.
“Saat ini kami terus melakukan koordinasi dan pendalaman bersama pihak terkait untuk memastikan fakta-fakta yang sebenarnya, termasuk status yang bersangkutan, bentuk afiliasi yang digunakan, serta keterkaitannya dengan institusi pendidikan tinggi atau lembaga riset di Indonesia,” ujarnya.
“Namun demikian, kita juga harus mengedepankan prinsip kehati-hatian. Semua pihak perlu diberikan ruang klarifikasi, dan setiap dugaan perlu diverifikasi secara objektif berdasarkan bukti serta mekanisme yang berlaku di lingkungan akademik dan penelitian,” lanjutnya.
Brian mengungkapkan bahwa para WNI yang disebut dalam kasus ini tidak terindikasi sebagai dosen atau peneliti aktif di perguruan tinggi Indonesia. Kendati demikian, ia menegaskan bahwa persoalan ini tetap menjadi perhatian karena dapat memengaruhi persepsi terhadap ekosistem riset nasional secara lebih luas.
“Berdasarkan informasi awal yang kami peroleh, pihak-pihak yang disebut dalam kasus ini tidak terindikasi sebagai dosen atau peneliti aktif di perguruan tinggi Indonesia. Meski demikian, persoalan ini tetap menjadi perhatian karena dapat memengaruhi persepsi terhadap ekosistem riset nasional secara lebih luas,” ucapnya.
“Indonesia memiliki mekanisme evaluasi integritas riset melalui perguruan tinggi, komite etik, LPPM, sistem penjaminan mutu akademik, serta mekanisme pemantauan dan evaluasi dari Kemdiktisaintek maupun BRIN sesuai kewenangannya,” jelasnya.
Artikel Terkait
Prabowo Salat Idul Adha di Paris, Momen Kejutan bagi Mahasiswa dan Diaspora Indonesia
JICT Salurkan 44 Ekor Sapi Kurban untuk Masyarakat Sekitar Pelabuhan Tanjung Priok
Bobby/Melati Tumbang di Singapore Open 2026 Usai Dua Kesalahan Krusial di Momen Kritis
Fadli Zon: Iduladha Momen Perkuat Solidaritas Sosial dan Kepedulian Sesama