Ayah Tewas Dikeroyok Preman Saat Pesta Pernikahan Anak di Purwakarta

- Minggu, 05 April 2026 | 01:15 WIB
Ayah Tewas Dikeroyok Preman Saat Pesta Pernikahan Anak di Purwakarta

Suasana bahagia berubah jadi duka di sebuah desa di Purwakarta. Pesta pernikahan yang seharusnya penuh sukacita justru berakhir dengan kematian tragis sang ayah. Dadang, pemilik hajat, tewas setelah diduga dikeroyok segerombolan pemuda yang disebut-sebut sebagai preman setempat.

Menurut sejumlah saksi, kejadian bermula Sabtu siang lalu (4/4/2026). Di Desa Kertamukti, Kecamatan Campaka, keluarga Dadang sedang merayakan pernikahan anaknya. Suasana riuh rendah tiba-tiba berubah sekitar pukul dua siang. Sekelompok orang datang, mendatangi tuan rumah. Mereka meminta uang istilahnya, minta ‘jatah’.

Wahyudin, adik korban, masih tampak syok ketika menceritakan kejadian itu di Mapolres Purwakarta malam harinya.

"Saya itu bantu mereka, istilahnya minta uang lah, palak ya. Terus dia minta dua kali. Pertama dikasih 100 ribu, yang kedua minta 500 ribu. Kakak saya menolak," ujarnya.

Penolakan itulah yang memicu malapetaka. Sekitar pukul tiga sore, kelompok itu kembali. Dadang menolak memberi lima ratus ribu rupiah. Dia kemudian keluar dari tenda resepsi. Di luar, keributan tak terhindarkan. Situasi cepat sekali memanas.

"Kakak saya enggak ngasih, ya terjadilah keributan itu. Ke kakak saya tiga orang, ke saya delapan orang. Kan saya enggak kenal karena tinggal di Karawang, kakak saya yang di Purwakarta," kata Wahyudin sambil bergegas masuk ke ruang pemeriksaan.

Dia menyaksikan sendiri kakaknya jatuh pingsan setelah dikeroyok. Upaya pertolongan sia-sia. Dadang dinyatakan meninggal dunia di rumah sakit. Istrinya dan sang anak, yang masih mengenakan kebaya pengantin, ikut kolaps akibat trauma hebat.

Detik-detik nahas itu terekam dalam video amatir yang kini beredar luas. Gambarnya memperlihatkan chaos yang memilukan. Di Mapolres, pantauan menunjukkan anak perempuan Dadang masih duduk lesu. Kebaya merahnya yang seharusnya menjadi simbol kebahagiaan kini justru menjadi pengingat pilu akan hari yang berubah jadi mimpi buruk.

Polisi kini sedang mendalami kasus ini. Sementara keluarga yang tertimpa musibah tak hanya kehilangan sosok ayah, tetapi juga kenangan indah yang seharusnya melekat pada hari itu.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar