Senin, 6 April 2026. Kisah romusha, kerja paksa di era Jepang, adalah lembaran paling kelam dalam sejarah kita. Ratusan ribu rakyat Indonesia tewas mengenaskan. Mereka bukan sekadar angka, tapi manusia yang dihabisi perlahan-lahan.
Dalam biografi ‘Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia’, Cindy Adams mengungkap sisi lain Sang Proklamator. Soekarno sendiri mengakui dengan hati yang remuk. Ia tahu betul nasib para romusha yang dikirim ke Burma hampir 99 persen tak kembali. Mereka mati kelaparan, disiksa, bahkan dipenggal. Ada yang tewas terkungkung di gerbong kereta tertutup bersama ribuan orang lainnya. Dipaksa bekerja hingga tubuh mereka tinggal kulit pembalut tulang.
“Sesungguhnya akulah –Sukarno– yang mengirim mereka kerja paksa. Ya, akulah orangnya. Aku menyuruh mereka berlayar menuju kematian. Ya, ya, ya, ya akulah orangnya.”
Begitu pengakuan pedih Bung Karno, seperti ditulis Adams.
“Aku membuat pernyataan untuk menyokong pengerahan romusha. Aku bergambar dekat Bogor dengan topi di kepala dan cangkul di tangan untuk menunjukkan betapa mudah dan enaknya menjadi seorang romusha.”
Namun begitu, di balik gambar propaganda itu, ada cerita lain. Bung Karno bersama wartawan dan petinggi militer Jepang pernah melakukan perjalanan inspeksi ke Banten. Apa yang ia saksikan di sana menghancurkan hatinya.
“Dengan para wartawan, juru potret, Gunseikan –Kepala Pemerintahan Militer- dan para pembesar pemerintahan aku membuat perjalanan ke Banten untuk menyaksikan tulang-tulang-kerangka-hidup yang menimbulkan belas, membudak di garis-belakang, itu jauh di dalam tambang batubara dan tambang mas. Mengerikan. Ini membikin hati di dalam seperti diremuk-remuk.”
Langkah kontroversialnya itu, tentu saja, menuai reaksi keras. Roso Daras dalam buku ‘Total Bung Karno’ mencatat, lima mahasiswa kedokteran yang juga aktivis segera mendatanginya. Mereka protes setelah foto Bung Karno yang terkesan mendukung romusha tersebar luas.
“Nampaknya Bung Karno tidak dipercayai lagi oleh rakyat. Cara bagaimana Bung Karno bisa menjawab persoalan romusha?” tanya seorang mahasiswa membuka percakapan yang menegangkan.
Bung Karno pun menjawab. Saat itu, menurutnya, hanya ada dua jalan menuju Indonesia merdeka. Pertama, dengan tindakan revolusioner. Tapi kita belum siap. Jalan kedua? Bekerja sama dengan Jepang sambil mengonsolidasikan kekuatan, menunggu saat yang tepat.
“Saya mengikuti jalan kedua”, begitu kata Bung Karno.
Jawaban itu tak memuaskan. Seorang mahasiswa lain langsung menimpali, suaranya penuh tanya dan kepedihan.
“Tapi kenapa Bung Karno sampai hati memberikan rakyat kita kepada mereka?”
Pertanyaan itu, mungkin, menggantung di udara tanpa jawaban yang benar-benar memuaskan. Sebuah dilema yang menghantui seorang pemimpin di tengah tekanan penjajahan. Air mata dan penyesalan Bung Karno, seperti tertulis dalam biografi itu, adalah saksi bisu dari sebuah pilihan yang terpaksa diambil, dengan konsekuensi yang terlalu mahal: nyawa rakyatnya sendiri.
Artikel Terkait
Rubio Akui Ada Kemajuan Diplomasi Damai AS-Iran, Namun Jurang Perbedaan Masih Lebar
Wanita di Cileungsi Alami Penipuan dan Perampokan Usai Kencan, Mobil Dibawa Kabur Pelaku
Polisi Amankan Perempuan Gangguan Jiwa yang Baru Sembuh Setelah Aniaya Penumpang Jaklingko
Polisi Tangkap Pelaku Pencurian Motor dan Pembobolan Rumah di Terbanggi Besar, Uang Hasil Curian Dipakai Judi Online dan Narkoba