Rabu lalu, udara di Sumatera Utara terasa berat. Tapi di tengah sisa-sisa bencana, Letjen TNI Richard Tampubolon bergerak cepat. Sebagai Wakil Ketua Satgas PRR, dia mendesak akselerasi pembangunan hunian sementara atau huntara. "Kita butuh strategi yang lebih aktif di lapangan," tegasnya, menyasar para pejabat daerah dan Polri yang terlibat. Dorongan itu bukan tanpa alasan.
Semuanya berangkat dari diskusi langsung di lokasi, bersama pejabat dan tokoh masyarakat. Masing-masing bupati atau wakilnya memaparkan progres rehab-rekon yang sudah berjalan. Richard mendengarkan, mencatat, dan menampung setiap keluhan. Tak cuma mendengar, untuk beberapa masalah dia langsung memberikan saran praktis. Bahkan memberi petunjuk, instansi mana yang harus dihubungi untuk berkoordinasi.
Kunjungan kerja itu menjangkau tiga kabupaten: Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, dan Humbahas. Tujuannya jelas: meninjau penanganan banjir dan pemulihan infrastruktur pasca bencana.
Di Tapanuli Selatan, datanya cukup detail. "Rencananya, bakal ada 816 unit huntara," ujar Richard dalam keterangan tertulis Jumat (30/1). Rinciannya, 683 unit terpusat dan 133 unit mandiri. Huntara terpusat tersebar di empat desa: Simarpinggan, Aek Latong, Simatohir, dan Napa.
Perkembangannya beragam. Di Simarpinggan, 186 unit yang didanai Danantara sudah selesai. Sementara di Aek Latong, dari target 118 unit yang dibiayai BNPB, 88 unit telah berdiri.
"Di Simantohir, rencananya 134 unit. Saat ini 78 unit sudah rampung," tuturnya.
Adapun huntara di Napa, yang dananya dari Kementerian PU, rencananya 245 unit. Proses masih berjalan, dengan 145 unit diharapkan selesai bulan Februari nanti.
Untuk huntara mandiri, rencana pembangunannya 133 unit yang tersebar di beberapa kecamatan. Pembiayaannya dari BNPB, dan saat ini 64 unit telah siap huni.
Namun begitu, di balik angka-angka itu, ada aspirasi warga yang mengemuka. Kepada Richard, masyarakat berharap setiap titik huntara dilengkapi tempat ibadah dan taman bermain. Mereka juga minta tambahan sumur bor untuk memastikan kecukupan air bersih. Menanggapi hal ini, Wakasatgas pun memberi arahan, menunjukkan instansi pusat mana yang perlu dikoordinasikan.
Lain cerita di Tapanuli Tengah. Pembangunan 106 unit huntara di sana sudah rampung seluruhnya. Terdiri dari 67 unit rusunawa, 15 unit di Asrama Haji Pinangsori, lalu 12 unit di Tukka dan 12 unit lagi di Muara Sibuntuon.
Dalam diskusi, muncul usulan menarik. Ada lahan milik PT Mujur Timber yang izinnya telah dicabut. Warga dan pejabat mengusulkan agar lahan itu dimanfaatkan untuk huntara bahkan huntap. Richard merespons dengan meminta bupati segera menyurati Ketua Tim Pengarah Satgas PKH dan Kasatgas PRR, dengan tembusan ke pejabat terkait.
Masalah lain yang mengemuka adalah persawahan yang rusak. "Masyarakat berharap program cetak sawah yang pernah dijanjikan benar-benar dilaksanakan," ujar Richard. Harapan mereka, program itu tidak diganti begitu saja dengan optimalisasi lahan atau oplah yang sudah berjalan.
Di Kabupaten Humbahas, situasinya agak berbeda. Pembangunan huntara di sana belum juga dimulai. Meski demikian, Pemda setempat mengklaim telah menyiapkan lahannya.
Persoalan lain yang mengganjal adalah pekerjaan jalan baru dan perbaikan jembatan. Rupanya, pekerjaan vital itu belum masuk dalam agenda rehab-rekon. Richard langsung meminta Dirjen Bina Marga menindaklanjuti, agar bisa dimasukkan ke program Inpres jalan daerah.
Kunjungan lapangan ini bagian dari tugasnya sebagai Kasum NI ke wilayah Kodam I/Bukit Barisan. Rombongan awalnya mendarat dengan helikopter di GOR Pandan, Tapanuli Tengah. Usai makan siang, mereka meninjau dapur umum yang menjadi penopang logistik warga terdampak.
Perjalanan dilanjutkan ke Desa Hutanabolon, untuk melihat kondisi SD Hutanabolon 2 yang porak-poranda diterjang bencana. Dari sana, rombongan bergerak ke Desa Sigiring-Giring. Di sana, Satgas Gulbencal Kodam I/BB sedang getol membangun jembatan untuk memulihkan akses warga. Setelah puas melihat langsung, mereka kembali ke GOR Pandan dan terbang menggunakan helikopter menuju Helipad Humbahas. Satu hari yang padat, menyusuri jejak pemulihan yang masih panjang.
Artikel Terkait
200 Ribu Buruh Diprediksi Padati Monas dalam Perayaan May Day 2026
Bareskrim Gagalkan Peredaran 18 Kg Sabu Jaringan Malaysia-Indonesia, Tiga Tersangka Ditangkap
Kebakaran Apartemen di Tanjung Duren, 110 Personel Damkar Dikerahkan
Pemerintah Percepat Penertiban Perlintasan Sebidang Usai Kecelakaan KA di Bekasi