Di kamar tempat Lula Lahfah ditemukan meninggal, polisi menemukan bercak darah. Bukan cuma satu titik. Ada di sprei tempat tidurnya, juga di selembar tisu yang sudah dibuang ke tempat sampah. Temuan ini langsung menarik perhatian penyidik.
Tim dari Puslabfor Mabes Polri pun turun tangan. Mereka memeriksa kedua barang bukti itu dengan cermat. Hasilnya? Darah yang ditemukan ternyata sudah mengering, menunjukkan bahwa itu bukan darah segar. Menurut analisis tim, bercak itu kemungkinan besar berasal dari menstruasi, bukan akibat kekerasan.
Kasubbid Bioser Puslabfor Bareskrim Polri, KP Irfan Rofik, menjelaskan hal ini dalam konferensi pers di Polres Metro Jakarta Selatan, Jumat (30/1/2026).
"Untuk darah yang ada di seprai dan tisu itu, kemungkinan darah sudah lama. Jadi kemungkinan saudari LL ini dia datang bulan atau menstruasi," ujar Irfan.
Ia dan timnya melihat karakteristik bercaknya. Darah yang sudah lama dan kering itu tidak menunjukkan ciri-ciri luka baru. "Demikian," tutupnya singkat. Di sisi lain, tim juga menemukan DNA sentuh Lula pada sebuah tabung gas berwarna pink yang kosong di kamar asistennya. Tapi temuan ini belum banyak menjelaskan.
Nah, soal penyebab kematiannya sendiri, polisi mengaku belum bisa memastikan. Autopsi tidak dilakukan, sehingga penyidikan pun dinyatakan selesai. Keputusan ini tentu meninggalkan banyak tanda tanya.
Cerita dari Sang Asisten
Kronologi kejadian justru lebih jelas tergambar dari kesaksian Asisten Rumah Tangga (ART). Menurut pengakuannya, Lula pulang ke apartemen di Essence Dharmawangsa pada Kamis malam (22/1) sekitar pukul 22.00 WIB. Ia langsung masuk kamar.
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Budi Hermanto, yang menyampaikan hal ini.
“Korban pulang sekitar jam 10 malam dan langsung masuk ke kamar,” kata Budi.
Keanehan mulai terasa beberapa jam kemudian. Sekitar pukul 02.00 dini hari, ART mendengar suara erangan dari balik pintu kamar Lula. Perlu diingat, perempuan 26 tahun ini diketahui punya riwayat batu ginjal dan asam lambung akut. Mungkin itu penyebabnya? Entah.
Pagi harinya, sekitar pukul 09.00, si ART mengetuk pintu. Tak ada jawaban. Sorenya, Lula masih juga tidak keluar-keluar. Khawatir, ART akhirnya menghubungi keluarga dan pengelola apartemen. Dengan persetujuan mereka, pintu kamar pun dibuka paksa.
Sekitar pukul 17.50 WIB, pemandangan pilu terlihat. Lula terbaring tak bernyawa di atas tempat tidur. Posisinya telentang, mengenakan kaus putih dan celana pendek hitam. Pintu kamar terkunci dari dalam.
Pemeriksaan awal oleh dokter dari RS Fatmawati tidak menemukan tanda kekerasan pada tubuh Lula. "Belum diketahui penyebab pasti kematian korban," jelas Kombes Budi Hermanto. Namun begitu, polisi masih menunggu hasil laboratorium untuk memastikan semuanya. Langkah ini diambil untuk menghentikan spekulasi yang sudah mulai berembus di masyarakat.
Artikel Terkait
Mobil Boks Terguling di Jalur Banjar-Pangandaran, Sopir Terjebak Dua Jam
Kericuhan Usai Persib Kalahkan Bhayangkara, Suporter Lempar Flare ke Arah Steward
Shakhtar Donetsk Jamu Crystal Palace di Semifinal Conference League di Polandia Akibat Perang
Braga dan Freiburg Bersaing Ketat di Semifinal Liga Europa, Leg Kedua Jadi Penentu