Dirjen Pajak Optimistis Capai Target 2026, Respons Kekhawatiran Fitch

- Jumat, 06 Maret 2026 | 12:15 WIB
Dirjen Pajak Optimistis Capai Target 2026, Respons Kekhawatiran Fitch

Jakarta, 6 Maret 2026 – Sorotan tajam dari lembaga pemeringkat global Fitch Ratings terhadap kondisi fiskal Indonesia tak lama ini mendapat respons. Bimo Wijayanto, sang Dirjen Pajak, tampil percaya diri. Ia meyakini target penerimaan pajak tahun 2026 bakal tercapai.

Keyakinannya punya dasar. Tren penerimaan pajak, kata Bimo, sudah menunjukkan perbaikan sejak awal tahun. Lihat saja data Januari lalu. Secara neto, penerimaan melonjak 30,7 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya, dari Rp88,9 triliun menjadi Rp116,2 triliun. Kalau dilihat secara bruto, pertumbuhannya tujuh persen, naik dari Rp159,1 triliun ke Rp170,3 triliun.

“Artinya, kami sangat optimistis. Performa ini akan kami jaga sejak awal tahun. Mudah-mudahan target tahun 2026 bisa tercapai,”

ujar Bimo dalam taklimat media di kantornya, Jumat siang. Kabar baiknya berlanjut ke Februari. Pertumbuhan penerimaan neto tercatat 30,2 persen, sementara yang bruto 19 persen. Angka-angka itu, baginya, adalah modal awal yang solid.

(Ilustrasi. Foto: Dok Metrotvnews.com)

Strategi Intensifikasi dan Ekstensifikasi

Lantas, bagaimana cara menjaga momentum ini? Bimo menegaskan, DJP tak akan main gebuk atau "berburu di kebun binatang". Mereka punya strategi yang lebih terukur: intensifikasi dan ekstensifikasi.

“Intensifikasi adalah menjaga basis pajak yang sudah ada. Kami juga melakukan kegiatan ekstensifikasi atas wajib pajak yang sudah ada, tetapi itu tidak berburu di kebun binatang,”

jelasnya. Maksudnya, ekstensifikasi ini dilakukan terhadap wajib pajak yang sudah terdaftar namun datanya tak lengkap atau tak sesuai dengan catatan sistem. Mereka juga mendorong wajib pajak yang punya aktivitas ekonomi tapi belum menyetor, lewat konfirmasi resmi.

Selain itu, ada pekerjaan rumah besar: meneliti 6 juta wajib pajak berstatus nonaktif. Jumlahnya memang fantastis. Tapi Bimo mengaku punya data bukti potong dan kegiatan ekonomi dari mereka. Inilah yang sedang digarap.

Menurutnya, berbagai langkah itulah yang sudah membuahkan hasil di dua bulan pertama tahun ini. Capaian ini diharapkan jadi fondasi kuat untuk kinerja kuartal pertama 2026.

Namun begitu, tekanan dari luar tetap ada. Fitch Ratings baru-baru ini mengubah outlook utang Indonesia dari stabil menjadi negatif. Salah satu alasan utamanya adalah kekhawatiran soal kinerja penerimaan negara yang bisa membebani APBN.

Proyeksi Fitch cukup suram. Mereka memperkirakan rasio pendapatan pemerintah terhadap PDB Indonesia cuma sekitar 13,3 persen untuk periode 2026-2027. Angka itu jauh di bawah median negara berperingkat BBB, yang mencapai 25,5 persen. Penerimaan tahun 2025 dinilai melemah karena beberapa hal: kinerja pajak yang belum optimal, pembatalan kenaikan tarif PPN, dan pengalihan dividen BUMN.

Dengan asumsi pertumbuhan yang melambat dan dampak upaya kepatuhan pajak yang dianggap terbatas, Fitch punya hitungan sendiri. Mereka memprediksi defisit fiskal Indonesia tahun 2026 akan berada di kisaran 2,9 persen dari PDB. Angka ini sedikit mengkhawatirkan, karena melampaui target pemerintah sebesar 2,7 persen.

Jadi, di satu sisi optimisme menguat dari data riil lapangan. Di sisi lain, sinyal peringatan dari pasar global juga nyaring terdengar. Tantangan Bimo dan timnya jelas tidak ringan untuk membuktikan bahwa keyakinan mereka bukan sekadar kata-kata.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar