Kronologi kejadian justru lebih jelas tergambar dari kesaksian Asisten Rumah Tangga (ART). Menurut pengakuannya, Lula pulang ke apartemen di Essence Dharmawangsa pada Kamis malam (22/1) sekitar pukul 22.00 WIB. Ia langsung masuk kamar.
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Budi Hermanto, yang menyampaikan hal ini.
Keanehan mulai terasa beberapa jam kemudian. Sekitar pukul 02.00 dini hari, ART mendengar suara erangan dari balik pintu kamar Lula. Perlu diingat, perempuan 26 tahun ini diketahui punya riwayat batu ginjal dan asam lambung akut. Mungkin itu penyebabnya? Entah.
Pagi harinya, sekitar pukul 09.00, si ART mengetuk pintu. Tak ada jawaban. Sorenya, Lula masih juga tidak keluar-keluar. Khawatir, ART akhirnya menghubungi keluarga dan pengelola apartemen. Dengan persetujuan mereka, pintu kamar pun dibuka paksa.
Sekitar pukul 17.50 WIB, pemandangan pilu terlihat. Lula terbaring tak bernyawa di atas tempat tidur. Posisinya telentang, mengenakan kaus putih dan celana pendek hitam. Pintu kamar terkunci dari dalam.
Pemeriksaan awal oleh dokter dari RS Fatmawati tidak menemukan tanda kekerasan pada tubuh Lula. "Belum diketahui penyebab pasti kematian korban," jelas Kombes Budi Hermanto. Namun begitu, polisi masih menunggu hasil laboratorium untuk memastikan semuanya. Langkah ini diambil untuk menghentikan spekulasi yang sudah mulai berembus di masyarakat.
Artikel Terkait
Drama dan Kebaikan di Balik Sesaknya Gerbong KRL
Polairud Buka Jalur Pelayaran Muara Angke yang Tersumbat
Prasetyo Bantah Isu Pertemuan Prabowo dengan Oposisi
Restoran Keluarga dan Luka Masa Lalu: Kisah Cinta Kedua di Predestined Love