Dari Ponorogo, mereka datang jauh-jauh ke Blitar dengan satu permintaan: perlindungan. Dua kepala Sekolah Pangan dan Pangan Gotong Royong (SPPG) itu melaporkan intimidasi yang mereka alami dari yayasan pengelola, yang mengaku dimiliki oleh seorang cucu menteri.
Wakil Kepala Badan Gizi Nasional, Nanik S Deyang, membenarkan pertemuan tersebut. "Mereka menemui saya karena merasa terancam," ujarnya kepada wartawan, Senin lalu.
Rizal Zulfikar Fikri dari SPPG Ponorogo Kauman Somoroto dan Moch. Syafi'i Misbachul Mufid dari SPPG Ponorogo Jambon Krebet, itulah nama kedua pria itu. Selama berbulan-bulan mengelola dapur di bawah Yayasan Bhakti Bhojana Nusantara, mereka mengaku terus-menerus ditekan.
Menurut cerita yang mereka sampaikan pada Nanik, tekanan itu datang dari pengawas yayasan. Mereka sering diancam akan dilaporkan ke polisi atau dihadiahi surat kuasa pengacara jika tak menuruti kemauan pengelola. Intimidasi itu berlangsung terus-menerus, membuat suasana kerja jadi mencekam.
Masalahnya ternyata tak cuma soal ancaman. Ada dugaan kuat rekayasa dalam pengelolaan anggaran. BGN menetapkan dana Rp 10 ribu per porsi untuk pembelian bahan pangan. Namun, di lapangan, anggaran itu dipotong hingga hanya Rp 6.500 per porsi.
Artikel Terkait
Tito Karnavian Desak Daerah Percepat Pendataan untuk Hunian Tetap Korban Bencana
BMKG Peringatkan Potensi Hujan di Banyumas, Pemudik Diminta Waspada
Taliban Klaim 400 Tewas dalam Serangan Udara Pakistan di Kabul, Islamabad Bantah
TASPEN Lepas 35 Bus untuk Mudik Gratis, 1.400 Pemudik Dijamin Asuransi