Dua Kepala Dapur Sekolah di Ponorogo Laporkan Intimidasi dan Potongan Anggaran ke BGN

- Selasa, 17 Maret 2026 | 11:15 WIB
Dua Kepala Dapur Sekolah di Ponorogo Laporkan Intimidasi dan Potongan Anggaran ke BGN

Dari Ponorogo, mereka datang jauh-jauh ke Blitar dengan satu permintaan: perlindungan. Dua kepala Sekolah Pangan dan Pangan Gotong Royong (SPPG) itu melaporkan intimidasi yang mereka alami dari yayasan pengelola, yang mengaku dimiliki oleh seorang cucu menteri.

Wakil Kepala Badan Gizi Nasional, Nanik S Deyang, membenarkan pertemuan tersebut. "Mereka menemui saya karena merasa terancam," ujarnya kepada wartawan, Senin lalu.

Rizal Zulfikar Fikri dari SPPG Ponorogo Kauman Somoroto dan Moch. Syafi'i Misbachul Mufid dari SPPG Ponorogo Jambon Krebet, itulah nama kedua pria itu. Selama berbulan-bulan mengelola dapur di bawah Yayasan Bhakti Bhojana Nusantara, mereka mengaku terus-menerus ditekan.

Menurut cerita yang mereka sampaikan pada Nanik, tekanan itu datang dari pengawas yayasan. Mereka sering diancam akan dilaporkan ke polisi atau dihadiahi surat kuasa pengacara jika tak menuruti kemauan pengelola. Intimidasi itu berlangsung terus-menerus, membuat suasana kerja jadi mencekam.

Masalahnya ternyata tak cuma soal ancaman. Ada dugaan kuat rekayasa dalam pengelolaan anggaran. BGN menetapkan dana Rp 10 ribu per porsi untuk pembelian bahan pangan. Namun, di lapangan, anggaran itu dipotong hingga hanya Rp 6.500 per porsi.

Kekurangan itu terpaksa mereka tutup dari kocek sendiri. "Mau nggak mau, Pak, saya kasihan sama adik-adik siswa penerima manfaat," kata Mufid, menjelaskan alasan mereka kerap nombok.

Mereka tak ingin menu yang disajikan untuk siswa terlihat jauh dari pantas, meski harus mengorbankan uang pribadi.

Merespons pengaduan itu, BGN akhirnya mengambil tindakan tegas. Dua SPPG di Ponorogo itu dihentikan sementara operasinya. Keputusan ini diambil setelah Ketua Harian Tim Koordinasi terkait program MBG melakukan konfirmasi langsung ke menteri yang disebut-sebut.

Hasil konfirmasi itu mengejutkan. Sang menteri membantah memiliki cucu yang mengklaim kepemilikan dapur tersebut.

Bahkan, menteri itu menyetujui penutupan operasi dapur yang dikelola oleh orang yang mengaku sebagai cucunya itu. Langkah ini sekaligus mengakhiri polemik yang sempat membuat dua kepala SPPG itu hidup dalam kecemasan.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar