Harga minyak kembali meroket. Di tengah pekan ketiga konflik yang melibatkan AS, Israel, dan Iran, serangan terbaru Teheran ke Uni Emirat Arab memicu kekhawatiran pasar akan pasokan global. Pada penutupan perdagangan Selasa (18/3), Brent dan WTI sama-sama melonjak lebih dari 2,9 persen.
Brent naik 3,2 persen ke posisi USD103,42 per barel. Sementara itu, minyak mentah AS, WTI, menguat 2,9 persen menjadi USD96,21 per barel. Meski belum menyentuh level hampir USD120 seperti di awal bulan, gejolak ini jelas membuat pelaku pasar waspada.
Menurut sejumlah saksi, serangan ke UEA itu menyebabkan aktivitas pemuatan minyak di pelabuhan Fujairah setidaknya sebagian terhenti. Ini adalah serangan ketiga dalam empat hari yang memicu kebakaran di terminal ekspor. Lokasinya strategis: Fujairah berada di Teluk Oman, di luar Selat Hormuz, dan menjadi titik keluar untuk volume minyak yang setara dengan sekitar 1 persen permintaan global.
Akibatnya, harga minyak acuan Timur Tengah melesat ke rekor tertinggi dan jadi yang termahal di dunia. Pasokan yang tersedia untuk pengiriman menyusut drastis.
Analis pasar IG, Tony Sycamore, menilai risiko masih sangat besar.
“Cukup satu milisi Iran menembakkan rudal atau menanam ranjau pada tanker yang melintas untuk memicu kembali eskalasi situasi secara luas,” tulisnya.
Gangguan pasokan ini diprediksi bakal berlangsung lama. Penutupan efektif Selat Hormuz memaksa UEA produsen terbesar ketiga di OPEC memangkas produksinya lebih dari setengah. Kabar itu disampaikan dua sumber yang dekat dengan masalah ini.
Di sisi lain, respons internasional terlihat berbelah-bagi. Sejumlah sekutu AS menolak permintaan Presiden Donald Trump untuk mengirim kapal perang mengawal pelayaran di selat itu. Penolakan ini langsung dikritik Trump yang menuding mitra Barat tidak berterima kasih.
Menteri Pertahanan Jerman bersikap tegas.
“Ini bukan perang kami, kami tidak memulainya,” katanya.
Presiden Prancis Emmanuel Macron juga menyatakan hal serupa. Negaranya, kata dia, tidak akan terlibat dalam operasi membuka blokade. Prancis hanya akan bergabung dengan koalisi yang menjamin kebebasan navigasi setelah konflik usai.
Namun begitu, ada sedikit angin segar. Beberapa kapal, termasuk yang dioperasikan Iran, berhasil melintasi selat pada Senin. Momen itu sempat mendorong harga turun. Tapi kekhawatiran akan disrupsi parah tetap membayangi.
Bank investasi Cavendish dalam catatannya menyebut, meski meredakan ketegangan sesaat, pasar masih memperkirakan gangguan akan berlanjut.
Pandangan dari Gedung Putih justru lebih optimis. Penasihat ekonomi Kevin Hassett menyebut konflik Iran ini diperkirakan berlangsung dalam hitungan pekan, bukan bulan. Ia juga menegaskan bahwa beberapa kapal tanker sudah mulai melintas lagi.
Lantas, ke mana harga akan bergerak? Analis OANDA Kelvin Wong melihat potensi kenaikan hingga akhir Maret. Dari analisis teknikal, resistance jangka menengah untuk WTI ada di kisaran USD124 per barel.
Sementara itu, untuk meredam biaya energi yang melambung, kepala IEA punya usulan. Negara anggota bisa melepas tambahan pasokan minyak, di luar 400 juta barel yang sudah disepakati dari cadangan strategis mereka.
Jadi, meski ada peluang perdamaian, pasar tampaknya belum siap untuk tenang. Setiap berita serangan atau kapal yang melintas bisa dengan mudah menggoyang harga naik-turun dalam hitungan jam.
Artikel Terkait
Laba Bersih PTBA Melonjak 104,8 Persen di Kuartal I-2026 Meski Pendapatan Stagnan
Paradise Indonesia (INPP) Cetak Laba Rp44 Miliar di Kuartal I-2026, Segmen Komersial Jadi Motor Pertumbuhan
Wall Street Beragam di Tengah Reli Bulanan, S&P 500 dan Nasdaq Catat Kenaikan Terbaik Sejak 2020
Wall Street Berakhir Campur Aduk, S&P 500 Catat Kenaikan Bulanan Terbesar Sejak 2020