Laba Bersih PTBA Melonjak 104,8 Persen di Kuartal I-2026 Meski Pendapatan Stagnan

- Jumat, 01 Mei 2026 | 05:30 WIB
Laba Bersih PTBA Melonjak 104,8 Persen di Kuartal I-2026 Meski Pendapatan Stagnan

IDXChannel – PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) mencatat laba bersih yang cukup mencengangkan di kuartal I-2026. Laba tahun berjalan yang bisa diatribusikan ke pemilik entitas induk mencapai Rp801,79 miliar. Bandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang hanya Rp396,77 miliar itu artinya melesat 104,81 persen secara year-on-year (YoY).

Pendapatan perusahaan? Hampir tidak bergerak. Tercatat Rp9,93 triliun, sedikit di bawah periode sebelumnya yang Rp9,96 triliun. Jadi, kenaikan laba ini bukan karena pendapatan yang membengkak, melainkan ada faktor lain di balik layar.

Kalau kita lihat komposisi penjualan hingga akhir Maret 2026, porsi domestik mendominasi dengan 53 persen. Sisanya, 47 persen, adalah ekspor. Negara tujuan ekspor terbesar? Ada Vietnam, Bangladesh, India, Kamboja, dan Thailand lima besar yang cukup stabil.

Direktur Utama PTBA, Arsal Ismail, buka suara soal tantangan di awal tahun. Menurut dia, curah hujan yang tinggi sempat mengganggu, tapi perusahaan tetap bisa menjaga stabilitas penjualan. Caranya? Dengan pengelolaan persediaan yang hati-hati, ditambah disiplin efisiensi dan selective mining. Strategi ini, katanya, berhasil memperbaiki struktur biaya.

“Hasilnya, perseroan membukukan pertumbuhan laba secara tahunan yang solid. Ini bukti nyata dari ketahanan operasional dan efektivitas strategi yang kami jalankan,” ujar Arsal dalam keterbukaan informasi di BEI, Kamis (30/4/2026).

Menariknya, meskipun volume produksi turun drastis 22 persen YoY penjualan hanya merosot 1 persen. Harga jual rata-rata (ASP) juga cuma naik tipis, 1 persen YoY, meskipun harga batu bara secara year-to-date mulai membaik. Jadi, perusahaan ini pintar mengatur ritme di tengah tekanan cuaca ekstrem.

Beban pokok pendapatan? Terealisasi Rp8,39 triliun, turun 6 persen secara YoY. Penurunan ini sejalan dengan volume operasional yang lebih rendah produksi batu bara turun 22 persen, angkutan juga turun 7 persen. Semua saling terkait.

Namun begitu, ada ancaman lain yang mulai mengintai. Arsal menerangkan, konflik di Selat Hormuz yang pecah akhir Februari 2026 sudah mulai berdampak. Harga BBM per liter naik, meskipun efeknya di kuartal ini masih kecil.

“Hal tersebut tentunya akan berdampak pada peningkatan biaya bahan bakar yang digunakan oleh perusahaan, baik untuk kegiatan penambangan maupun angkutan kereta api,” katanya, dengan nada waspada.

Di sisi lain, beban operasional justru naik Rp61,37 miliar atau 10 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Penyebab utamanya? Kenaikan di komponen beban umum dan administrasi. Jadi, ada tekanan dari dua arah sekaligus.

Total aset PTBA per 31 Maret 2026 tercatat Rp43,23 triliun. Angka ini turun 2 persen dari posisi akhir 2025 yang Rp43,92 triliun. Sementara itu, liabilitas turun lebih tajam 8 persen dari Rp21,30 triliun menjadi Rp19,56 triliun. Ekuitas malah naik 5 persen, dari Rp22,62 triliun ke Rp23,67 triliun. Artinya, struktur keuangan perusahaan sedikit lebih sehat.

Corporate Secretary Division Head PTBA, Eko Prayitno, menambahkan bahwa capaian kuartal ini menunjukkan fondasi operasional yang solid. Meskipun ada tantangan eksternal cuaca buruk dan geopolitik yang memanas perusahaan tetap bisa bertahan.

“PTBA akan terus menjaga disiplin operasional, memperkuat efisiensi, serta memastikan fleksibilitas dalam merespons dinamika pasar dan tantangan eksternal. Dengan fondasi operasional yang solid, Perseroan optimistis dapat terus menjaga kinerja yang sehat dan menciptakan nilai berkelanjutan bagi seluruh pemangku kepentingan,” ujar Eko.

Reporter: Dhera Arizona

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar