Bank Dunia Proyeksikan Ekonomi Indonesia Tumbuh 5 Persen pada 2026, Didorong Permintaan Domestik

- Minggu, 14 Juni 2026 | 07:15 WIB
Bank Dunia Proyeksikan Ekonomi Indonesia Tumbuh 5 Persen pada 2026, Didorong Permintaan Domestik

Perekonomian Indonesia dinilai tetap kokoh di tengah meningkatnya ketidakpastian global dan gejolak pasar, dengan permintaan domestik yang kuat menjadi motor utama pertumbuhan.

Pada kuartal pertama, pertumbuhan ekonomi didorong oleh konsumsi rumah tangga, investasi dalam negeri, serta belanja pemerintah. Pengelolaan fiskal tetap dilakukan secara hati-hati, dengan defisit diperkirakan masih berada dalam batas maksimal tiga persen dari produk domestik bruto. Di sisi lain, penerimaan negara terus menguat seiring aktivitas ekonomi domestik yang bergerak positif.

Reformasi di sektor fiskal dan upaya peningkatan produktivitas dinilai menjadi kunci untuk menciptakan lapangan kerja yang lebih banyak dan berkualitas, sekaligus memastikan pertumbuhan jangka panjang.

Menurut laporan Bank Dunia bertajuk Indonesia Economic Prospects: Managing Risks, Unlocking Productivity, pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan mencapai lima persen pada 2026. Angka ini diperkirakan akan pulih kembali ke level 5,2 persen pada periode 2027–2028, meskipun tekanan eksternal masih membebani investasi dan ekspor.

“Perekonomian Indonesia tetap kuat saat menghadapi ketidakpastian global yang meningkat. Berlanjutnya koordinasi kebijakan, kredibilitas fiskal, dan berbagai reformasi yang meningkatkan produktivitas menjadi penting untuk menjaga stabilitas dan mendukung pertumbuhan jangka menengah,” ujar Direktur Bank Dunia untuk Indonesia dan Timor-Leste, Carolyn Turk.

Laporan tersebut juga menekankan pentingnya menjaga ketahanan fiskal. Memperkuat mobilisasi pendapatan, meningkatkan kualitas belanja, serta memperbaiki ketepatan sasaran bantuan pemerintah akan membantu menjaga ruang fiskal bagi investasi prioritas dan perlindungan sosial.

Secara khusus, laporan ini mencatat bahwa upaya berkelanjutan untuk meningkatkan akurasi sasaran dan efisiensi belanja yang terkait energi dapat meningkatkan efektivitas belanja publik. Langkah ini juga dinilai penting untuk tetap memberikan dukungan bagi rumah tangga rentan dan kelompok mata pencaharian yang terdampak.

Sementara itu, laporan tersebut menyoroti peran penting reformasi struktural, seperti peningkatan produktivitas dan perbaikan kualitas pekerjaan, guna menjaga pertumbuhan jangka panjang.

Bagian penting dari agenda ini adalah reformasi peraturan di bidang fasilitasi perdagangan dan logistik. Prosedur yang lebih efisien, biaya yang lebih rendah, serta kebijakan yang terkoordinasi dinilai dapat memperkuat daya saing dan memperdalam integrasi Indonesia ke dalam rantai nilai global.

“Untuk memastikan bahwa pertumbuhan Indonesia terus berdampak pada peningkatan taraf hidup, upaya untuk meningkatkan permintaan dari pihak bisnis akan pekerjaan dengan keterampilan dan gaji yang lebih tinggi menjadi sangat penting,” tutur Ekonom Utama Bank Dunia untuk Indonesia dan Timor-Leste, David Knight.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar