IDXChannel – Wall Street memulai perdagangan Kamis (30/4/2026) dengan gerak yang cukup beragam. Tapi yang menarik, S&P 500 dan Nasdaq sepertinya bakal menutup bulan April dengan kenaikan paling gemilang sejak 2020.
Dow Jones Industrial Average melesat 429,39 poin, atau sekitar 0,88 persen, ke posisi 49.233,73. Sementara S&P 500 terpantau tenang di 7.138,78. Namun, Nasdaq Composite justru merosot 77,65 poin, atau 0,31 persen, ke level 24.595,59.
Kalau dilihat dari performa bulanan, S&P 500 sedang dalam jalur menuju kenaikan terbesar sejak November 2020. Nasdaq juga bersiap mencatatkan bulan terbaiknya sejak April 2020. Dow Jones? Ia menuju bulan terkuatnya sejak November 2024. Cukup impresif, mengingat situasi geopolitik yang masih panas.
Di balik reli ini, para pelaku pasar menaruh perhatian pada satu hal: ketahanan pendapatan perusahaan. Ternyata, laporan laba yang solid mampu meredam kekhawatiran investor, meskipun ada guncangan pasokan minyak yang cukup bersejarah. Ya, perang memang bikin harga minyak naik, tapi sejauh ini pendapatan perusahaan masih bisa jadi tameng.
Namun begitu, ada risiko yang mengintai. Reli ini menunjukkan bahwa investor sangat bergantung pada ketahanan laba untuk mengabaikan gejolak geopolitik. Tapi kalau perusahaan-perusahaan mulai memberi sinyal bahwa biaya akibat perang mulai menekan pertumbuhan, bisa-bisa pasar jatuh cepat. Semua tergantung pada seberapa lama ketegangan ini berlangsung.
Angelo Kourkafas, Ahli Senior Strategi Investasi Global di Edward Jones, punya pandangan menarik soal ini.
“Saya pikir ada tarik-menarik besar di sini, tapi sisi pendapatan sejauh ini menang. Pasar mencoba mengabaikan ketidakpastian jangka pendek, tetapi tentu saja, semakin lama berlangsung, semakin akut tekanannya,” ujarnya kepada Reuters.
Data ekonomi yang dirilis Kamis lalu menunjukkan pertumbuhan ekonomi AS meningkat di kuartal I-2026, didorong oleh belanja pemerintah. Tapi, kenaikan ini kemungkinan hanya sementara. Soalnya, perang dengan Iran memicu kenaikan harga bensin, yang otomatis menekan anggaran rumah tangga. Jadi, waspada saja.
Di sisi lain, pendapatan perusahaan teknologi besar sebagian besar cukup kuat. Ambil contoh Alphabet, perusahaan induk Google. Sahamnya naik 6,1 persen dan mencetak rekor tertinggi setelah kuartal yang luar biasa untuk unit cloud-nya.
Tapi tidak semuanya mulus. Meta Platforms dan Microsoft justru ambles, masing-masing turun 8,4 persen dan 4,8 persen. Ini terjadi sehari setelah mereka mengumumkan rencana belanja modal yang bikin investor agak khawatir. Amazon juga ikut-ikutan turun 2,1 persen setelah pengumuman hasil keuangan, meskipun sebenarnya penjualan cloud-nya melampaui ekspektasi. Aneh, ya?
Investor juga masih mencerna komentar Ketua Federal Reserve Jerome Powell pada Rabu lalu. Bank sentral memutuskan untuk menahan suku bunga tanpa perubahan. Tapi, tiga pejabat Fed memberi sinyal bahwa inflasi masih terlalu tinggi untuk bisa menurunkan suku bunga dalam waktu dekat. Artinya, mungkin kita belum melihat pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat.
Terakhir, soal rekor. Indeks S&P 500 mencatatkan 20 rekor tertinggi baru dalam 52 minggu, dan 13 rekor terendah baru. Sementara Nasdaq Composite mencatat 54 rekor tertinggi baru dan 71 rekor terendah baru. Angka yang cukup kontras, menunjukkan betapa beragamnya pergerakan saham saat ini.
(Dhera Arizona)
Artikel Terkait
Wall Street Berakhir Campur Aduk, S&P 500 Catat Kenaikan Bulanan Terbesar Sejak 2020
Wall Street Mixed di Akhir April, S&P 500 dan Nasdaq Catat Kenaikan Bulanan Terbesar Sejak 2020
Pendapatan Bakrie & Brothers Tembus Rp1,13 Triliun di Kuartal I-2026, EBITDA Melonjak 252 Persen
Laba Bersih Astra Internasional Turun 16 Persen di Kuartal I-2026, Tertekan Divisi Alat Berat