Malam di Markas Bos Top: Saat Kolor Hilang Dibahas Setara Makar

- Selasa, 30 Desember 2025 | 00:06 WIB
Malam di Markas Bos Top: Saat Kolor Hilang Dibahas Setara Makar

Malam itu, setelah perut kenyang diracuni 'Ayam Bersyahadat' Bang Anchu, kami malah masuk ke dimensi lain. Bukan tidur yang menunggu, tapi sebuah 'panggilan' ke markas besar. Ini lanjutan dari cerita Natal di Palangka Raya itu, tapi suasana udah beda banget.

Bayangkan, tahun 2011. Zaman yang sekarang kayak jaman baheula, tapi romantis juga sih. Saat dering PING! BBM bikin deg-degan, dan WhatsApp belum jadi algojo yang menghakimi dengan centang birunya.

Instruksinya datang. Bukan ajakan biasa, tapi lebih mirip surat perintah. Saya, bersama Vincen, Bang Anchu, dan Pak Umar seperti rombongan sirkus harus melapor ke tempat Almarhum Topan Nanyan, atau yang kami panggil Bos Top. Rasanya bukan sebagai tamu, tapi lebih kayak mau diperiksa isi kepala.

Pukul sebelas malam pintu terbuka. Di sudut, lampu pohon Natal berkedip-kedip kayak ikut nimbrung. Di atas meja, toples nastar dan asbak penuh puntung rokok udah siap standby. Mereka jadi saksi setia untuk debat yang bakal panjang.

Nah, di tengah kepulan asap dan obrolan yang makin panas, tiba-tiba ada rasa aneh. Hangat. Saya tersadar, di jantung Palangka Raya yang riuh ini, saya nemu keluarga. Jauh dari Pati, Jawa Tengah, kota ini tiba-tiba nggak asing lagi. Bukan cuma tempat cari nafkah, tapi kayak rahim yang melahirkan versi dewasa saya. Lengkap dengan saudara-saudara baru yang siap ribut, tapi juga siap merangkul.

Obrolan malam itu liar banget. Dari tegang membahas konspirasi elit global, Zionis, ancaman Perang Dunia III, eh, tiba-tiba belok ke kasus pencurian celana dalam di jemuran tetangga. Seriusan.

Yang lucu, di hadapan Bos Top, kasus kolor hilang itu dibahas dengan seriusnya minta ampun. Sama hormatnya kayak bahas makar atau jatuhnya kabinet.

“Ini murni Pasal 362 KUHP atau ada unsur klenik yang nggak kejamah hukum positif?” tanya kami sambil mulut penuh kastengel.

Bagi dia, nggak ada istilah isu receh. Kedaulatan negara dan kolor tetangga punya bobot urgensi yang sama. Cuma angle-nya aja yang beda.

Lalu, di antara asap yang makin tebal, tatapannya berubah. Mode santai off. Mode mahaguru on.

“Fit,” tembaknya. Suaranya berat, nembus asap. “Wartawan itu bukan juru ketik. Kalau otakmu kosong, tulisanmu kopong. Itu namanya malpraktik jurnalistik!”

Sentilan itu kayak tamparan. Dia lagi membongkar dosa besar jurnalis daerah: jadi manusia ‘Palugada’ yang cuma nunggu perintah, tapi malas mikir.

“Narasumber, apalagi politisi, itu licin. Lidahnya nggak bertulang. Datang cuma bawa pertanyaan ‘gimana tanggapannya, pak?’ ya habis. Kau cuma jadi tiang mic berjalan,” sindirnya pedas.

Intinya, kualitas berita ditentukan gigitan pertanyaannya, bukan jawaban narasumber. Tanpa riset, kita cuma corong buat kebohongan yang dibungkus rapi.

Puncaknya pas jam tiga pagi. Bos Top ngeluarin kartu as dari Guru Besar kita, Dahlan Iskan.

“Ingat kata Pak Dahlan,” ujarnya. Bayangannya memanjang di bawah cahaya lampu hias. “Wartawan merekam itu cari aman. Wartawan mencatat itu cari selamat. Tapi... wartawan hebat datang dengan tangan kosong!”

Saya melongo. Hampir tersedak nastar. Tangan kosong?

“Iya. Pake otakmu! Simak, pahami, terus tulis pake logikamu sendiri,” jelasnya, nada rendah tapi menancap. “Kalau tangan sibuk pegang alat, matamu luput baca gerak-gerik. Rekaman cuma tangkap suara, tapi nalarmu tangkap ‘rasa’. Itu yang bikin tulisan hidup, nggak kaku kayak berita acara polisi.”

Tapi, sebagai jurnalis lapangan yang tahu licinnya dunia, dia buru-baru kasih pagar pengaman. Biar saya nggak mati konyol.

“Ingat! Asas ini gugur kalau liputan sensitif. Investigasi korupsi, kasus hukum. Narasumber bisa ngeles. Kalau udah urusan nyawa atau penjara, rekaman itu alat bukti dan saksi mahkota. Tapi untuk feature atau cerita manusia... matikan alatmu. Nyalakan nalarmu.”

Diskusi berakhir pas mata saya tinggal nyala 5 watt. Azan subuh udah mulai terdengar sayup. Kami dibebaskan.

Pulangnya, saya membelah kabut pagi Palangka Raya dengan langkah sempoyongan. Bukan cuma ngantuk. Kepala terasa berat oleh pelajaran baru, tapi hati terasa penuh. Diterima sebagai keluarga di tanah Dayak ini.

Malam penghujung 2011 itu ngajarin satu hal: misteri kolor hilang harus ditulis seserius isu negara. Asal pakai akal sehat, riset kuat, dan hati yang udah bersyahadat pada kebenaran. Di Palangka Raya inilah, jurnalis asal Pati ini akhirnya merasa pulang beneran.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar