Jakarta akhirnya punya suara yang lebih kuat di Beijing. Forum Masyarakat Indonesia Emas (FORMAS) baru saja membuka kantor perwakilannya di ibukota Tiongkok itu. Langkah ini bukan sekadar seremoni. Ini adalah strategi nyata untuk memperluas jaringan dan, yang lebih penting, mempertegas komitmen mereka dalam mendorong kerja sama ekonomi antara kedua negara.
Lantas, apa sebenarnya peran FORMAS di sana? Menurut Ketua Umumnya, Yohanes Handojo Budhisedjati, tugas mereka ada dua.
"Pertama, kami bertugas menjembatani perusahaan dengan mitra lokal di Indonesia. Baik itu pemerintah daerah, pelaku industri, maupun komunitas bisnis," jelas Handojo dalam keterangan tertulis, Senin (16/3/2026).
"Kedua, kami memberikan gambaran tentang kondisi pasar kita. Mulai dari regulasi hingga budaya bisnis. Harapannya, perusahaan yang ingin masuk ke Indonesia bisa beradaptasi dengan lebih cepat dan efektif," tambahnya.
Perannya ternyata cukup krusial. FORMAS tidak cuma memberi panduan di atas kertas, tapi juga turun ke lapangan. Mereka mengoordinasi berbagai pemangku kepentingan agar proyek-proyek kerja sama benar-benar bisa jalan, dan berkelanjutan.
Dalam sebuah pertemuan bisnis yang dihadiri puluhan perusahaan Tiongkok, ajakan untuk berkolaborasi pun disampaikan secara gamblang. David Sebastian dari Divisi Bisnis FORMAS secara khusus mengajak investor untuk membangun infrastruktur dan teknologi di tanah air.
"FORMAS sangat menyambut baik pertemuan ini," ujar David.
"Kami mengajak para investor Tiongkok untuk bersama-sama berinvestasi di Indonesia. Dukungan investor dan teknologi dari China kami harap bisa membuka banyak lapangan kerja, yang pada ujungnya meningkatkan kesejahteraan rakyat," tegasnya.
Gebrakan FORMAS ini mendapat apresiasi dari pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Tiongkok. Nur Evi Rahmawati, perwakilan KBRI, menilai kolaborasi semacam ini sangat strategis. Alasannya jelas: potensi ekonomi digital Indonesia adalah yang terbesar di Asia Tenggara, dengan pasar yang mencapai lebih dari 280 juta jiwa.
Evi pun optimis. Menurutnya, hubungan dagang Indonesia-Tiongkok berpeluang besar mencetak rekor baru di tahun 2026 ini. Sektor-sektor seperti fintech, e-commerce, dan kesehatan digital disebut-sebut akan menjadi motor penggeraknya. Sebuah harapan yang wajar, mengingat geliat kerja sama kedua negara memang sedang berada di puncaknya.
Artikel Terkait
200 Ribu Buruh Diprediksi Padati Monas dalam Perayaan May Day 2026
Bareskrim Gagalkan Peredaran 18 Kg Sabu Jaringan Malaysia-Indonesia, Tiga Tersangka Ditangkap
Kebakaran Apartemen di Tanjung Duren, 110 Personel Damkar Dikerahkan
Pemerintah Percepat Penertiban Perlintasan Sebidang Usai Kecelakaan KA di Bekasi