Utang Luar Negeri Indonesia Naik 1,9 Persen Jadi 439,8 Miliar Dolar AS per April 2026

- Senin, 15 Juni 2026 | 14:00 WIB
Utang Luar Negeri Indonesia Naik 1,9 Persen Jadi 439,8 Miliar Dolar AS per April 2026

Bank Indonesia mencatat posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia pada April 2026 mencapai 439,8 miliar dolar AS, meningkat 1,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka ini menunjukkan tren pertumbuhan yang dipengaruhi oleh sektor publik di tengah masih berlanjutnya kontraksi utang swasta.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa perkembangan tersebut terjadi seiring aliran modal masuk asing pada Surat Berharga Negara (SBN) internasional. Kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia dinilai tetap terjaga, sehingga mendorong peningkatan utang pemerintah.

"Perkembangan tersebut dipengaruhi oleh pertumbuhan ULN sektor publik di tengah kontraksi ULN sektor swasta yang berlanjut," ungkap Denny dalam keterangan resminya, Senin (15/6/2026).

Posisi utang pemerintah pada April 2026 tercatat sebesar 216,4 miliar dolar AS. Angka ini lebih rendah dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya yang mencapai 3,8 persen secara tahunan. Pemerintah mengelola utang tersebut secara cermat, terukur, dan akuntabel sebagai bagian dari instrumen pembiayaan APBN. Pemanfaatannya diarahkan untuk mendukung program-program prioritas guna menjaga keberlanjutan fiskal dan memperkuat perekonomian nasional.

Berdasarkan sektor ekonomi, utang pemerintah paling banyak dialokasikan untuk Sektor Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial, yang mencapai 22,1 persen dari total ULN pemerintah. Disusul oleh Administrasi Pemerintah, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib sebesar 20,5 persen; Jasa Pendidikan 16,2 persen; Konstruksi 11,5 persen; serta Transportasi dan Pergudangan 8,5 persen. Dominasi utang jangka panjang mencapai 99,99 persen dari total utang pemerintah.

Sementara itu, utang swasta masih menunjukkan kontraksi meskipun perlahan membaik. Pada April 2026, posisi ULN swasta tercatat sebesar 193,2 miliar dolar AS, terkontraksi 0,7 persen secara tahunan. Angka ini lebih rendah dibandingkan kontraksi bulan sebelumnya yang mencapai 1,4 persen. Perbaikan tersebut terutama didorong oleh kelompok peminjam lembaga keuangan yang mencatatkan kontraksi 5,0 persen, lebih rendah dari 6,3 persen pada Maret 2026.

Dari sisi sektor ekonomi, utang swasta terbesar berasal dari Industri Pengolahan; Jasa Keuangan dan Asuransi; Pengadaan Listrik dan Gas; serta Pertambangan dan Penggalian. Keempat sektor ini mencakup 79,6 persen dari total ULN swasta. Seperti halnya utang pemerintah, utang swasta juga didominasi oleh utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 75,8 persen.

Secara keseluruhan, struktur ULN Indonesia dinilai tetap sehat. Hal ini tercermin dari rasio ULN terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang turun menjadi 29,6 persen pada April 2026. Dominasi utang jangka panjang yang mencapai 84,5 persen dari total utang juga menunjukkan penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan utang nasional.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar