Penguatan nilai tukar rupiah yang berhasil menembus level psikologis serta meredanya sejumlah kekhawatiran di pasar keuangan menjadi sinyal awal bagi potensi pemulihan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa bulan mendatang. Kombinasi kebijakan moneter yang lebih agresif dari Bank Indonesia (BI), perbaikan sentimen terhadap kebijakan Danantara, serta valuasi saham yang telah terdiskon cukup dalam dinilai para analis membuka peluang bagi pasar saham domestik untuk bangkit kembali.
Rupiah yang sebelumnya tertekan hingga menembus level Rp18.200 per dolar Amerika Serikat (AS) kini berhasil menguat ke bawah Rp18.000 per dolar AS. Langkah Bank Indonesia yang semakin agresif dalam menjaga stabilitas nilai tukar menjadi faktor utama di balik penguatan tersebut. Dalam sebulan terakhir, BI telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 75 basis poin, termasuk kenaikan di luar jadwal atau off-cycle sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen pada 9 Juni 2026. Ini merupakan kenaikan suku bunga tidak terjadwal pertama sejak Mei 2018.
Selain kebijakan moneter yang lebih ketat, penguatan rupiah juga berpotensi mendapat dukungan dari implementasi kebijakan ekspor mineral melalui Danantara. Kebijakan tersebut diyakini dapat menekan praktik under-invoicing dan meningkatkan arus masuk devisa ke Indonesia. Dari sisi fiskal, pengeluaran pemerintah yang lebih rendah untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta rasionalisasi koperasi juga dinilai turut membantu menjaga stabilitas mata uang domestik.
Sementara itu, sentimen positif lainnya datang dari kembalinya investor asing ke pasar saham Indonesia. Pada 12 Juni 2026, tercatat arus dana asing bersih (net foreign inflow) sebesar Rp287 miliar atau sekitar 16 juta dolar AS. Angka tersebut menjadi aliran masuk pertama sejak 20 Mei 2026, menandakan mulai pulihnya kepercayaan investor asing terhadap prospek pasar modal Indonesia.
Dari sisi valuasi, kondisi pasar saat ini dinilai sangat menarik. IHSG diperdagangkan pada level price to earnings ratio (P/E) forward satu tahun sekitar 8,8 kali. Angka tersebut 11 persen di bawah level minus dua standar deviasi dan 36 persen di bawah rata-rata lima tahun. Koreksi IHSG dari puncak ke titik terendah mencapai 41 persen dalam waktu sekitar 4,6 bulan. Penurunan itu bahkan lebih dalam dibandingkan sejumlah periode krisis berbasis sentimen sebelumnya, seperti krisis 2013 sebesar 23,9 persen, krisis 2015 sebesar 25,4 persen, maupun pandemi Covid-19 sebesar 37,7 persen. Hanya krisis keuangan global 2008 yang mencatat penurunan lebih dalam, yakni mencapai 60,7 persen.
Menurut analis, kondisi tersebut menunjukkan bahwa pasar telah memperhitungkan skenario yang jauh lebih buruk dibandingkan kondisi fundamental saat ini. Jika mengacu pada pola historis, IHSG berpotensi mencatat kenaikan rata-rata 16,5 persen dalam tiga bulan, 25,3 persen dalam enam bulan, dan 58,5 persen dalam 12 bulan setelah mencapai titik terendah siklus koreksi.
Meski demikian, pasar masih mencermati sejumlah faktor yang berpotensi menjadi sumber tekanan. Perhatian utama tertuju pada hasil tinjauan indeks global oleh MSCI dan FTSE. Tinjauan MSCI pada Februari dan Mei 2026 telah memicu keluarnya tujuh saham Indonesia dari indeks standar, yakni PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT).
Akibatnya, bobot Indonesia dalam indeks MSCI Emerging Markets turun menjadi sekitar 0,45 hingga 0,50 persen dari sebelumnya sekitar 0,75 persen. Arus keluar dana asing yang dipicu rebalancing MSCI diperkirakan mencapai sekitar 1,5 miliar dolar AS pada penutupan perdagangan 29 Mei 2026. Sementara itu, rebalancing FTSE pada 22 Juni diperkirakan memberikan dampak lebih terbatas karena dana kelolaan yang mengikuti indeks tersebut lebih kecil dibandingkan MSCI.
Analis memperkirakan Indonesia akan tetap mempertahankan status pasar berkembang (emerging market) dalam tinjauan MSCI pada 18 Juni 2026 tanpa masuk daftar pemantauan. Jika hasil tersebut sesuai ekspektasi, arus dana asing berpotensi kembali masuk ke pasar domestik. Dalam strategi sektoral, analis merekomendasikan rotasi ke saham perbankan berkualitas dan emiten berbasis dolar AS, terutama sektor logam dan batu bara.
Perbaikan kebijakan pertambangan yang dinilai lebih ramah pelaku usaha, termasuk tidak adanya kenaikan royalti, skema gross split, serta peningkatan kuota RKAB pada semester II-2026, menjadi salah satu dasar optimisme terhadap sektor komoditas. Namun, pasar masih menunggu kejelasan struktur harga dan margin yang akan diterapkan oleh PT Danantara Sumberdaya Indonesia sebelum kepercayaan investor pulih sepenuhnya. Sejumlah saham yang menjadi pilihan utama antara lain PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Timah (Persero) Tbk (TINS), serta PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI).
Meski prospek pemulihan pasar mulai terlihat, analis mengingatkan bahwa sejumlah risiko masih perlu dicermati. Ketegangan geopolitik global, potensi pelebaran defisit fiskal dan transaksi berjalan, serta ketidakpastian kebijakan pemerintah menjadi faktor-faktor yang dapat menghambat laju pemulihan IHSG ke depan.
Artikel Terkait
BP Tapera Salurkan 77.532 Unit Rumah Subsidi Lewat FLPP hingga Juni 2026, Baru Capai 22,15 Persen dari Target
IHSG Diproyeksikan Tembus Level 6.100 Pekan Depan, Didukung Meredanya Ketegangan Global dan Penguatan Rupiah
Samuel Sekuritas Pangkas Proyeksi Laba Perbankan 2026 Jadi 1,8 Persen Imbas Tekanan Rupiah dan Suku Bunga
Pefindo Pertahankan Peringkat idA untuk WIFI, Prospek Stabil di Tengah Ekspansi Bisnis