Sektor Barang Konsumsi Dinilai Jadi Tempat Berlindung Aman bagi Investor di Tengah Risiko Kebijakan

- Senin, 15 Juni 2026 | 10:30 WIB
Sektor Barang Konsumsi Dinilai Jadi Tempat Berlindung Aman bagi Investor di Tengah Risiko Kebijakan

Di tengah meningkatnya risiko intervensi kebijakan di berbagai sektor, khususnya komoditas, sektor barang konsumsi atau consumer goods dinilai menjadi tempat berlindung yang relatif aman bagi investor. Analis dari UOB Kay Hian, seperti dikutip dari Dow Jones Newswires, menilai bahwa saham-saham di sektor ini kini semakin menarik setelah mengalami koreksi valuasi yang cukup dalam.

Pelemahan tersebut, menurut para analis, sebagian besar telah mencerminkan berbagai sentimen negatif yang membayangi pasar. Mulai dari pelemahan nilai tukar rupiah yang mencapai level terendah secara nominal terhadap dolar Amerika Serikat, hingga risiko fiskal di dalam negeri yang masih perlu diwaspadai. Meskipun demikian, UOB Kay Hian masih mempertahankan rekomendasi market weight untuk sektor konsumen Indonesia.

Beberapa saham pun dijadikan sebagai pilihan utama oleh UOB Kay Hian. Di antaranya adalah PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY), PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA), PT Mayora Indah Tbk (MYOR), dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT). Dari keempat saham tersebut, CMRY diperkirakan menjadi salah satu yang mampu mencatatkan kinerja paling menonjol dalam beberapa tahun ke depan.

Analis Nomura, Heng Siong Kong, memperkirakan laba operasional atau EBIT CMRY dapat tumbuh sekitar 22 persen hingga tahun 2028. Menurut dia, pertumbuhan tersebut akan ditopang oleh ekspansi jaringan distribusi yang agresif serta rencana penambahan kapasitas produksi oleh perusahaan. Prospek cerah ini mendorong Nomura untuk menaikkan target harga saham CMRY menjadi Rp9.250 per unit, dari sebelumnya Rp9.150, dengan tetap mempertahankan rekomendasi beli.

Sementara itu, prospek saham MYOR justru menghadapi tantangan, terutama dari pasar ekspor. Analis CGS International memperkirakan penjualan ekspor Mayora cenderung stagnan pada 2026. Kondisi ini dipicu oleh lemahnya permintaan di Filipina akibat daya beli yang belum pulih sepenuhnya dan persaingan yang semakin ketat di pasar tersebut.

Sejalan dengan proyeksi itu, CGS International memangkas proyeksi penjualan Mayora untuk periode 2026–2027 sebesar 4 persen hingga 6 persen. Target harga saham MYOR pun diturunkan menjadi Rp2.170 per saham, dari sebelumnya Rp2.740. Meski demikian, CGS International masih mempertahankan rekomendasi add terhadap saham Mayora.

Dalam terminologi riset, rekomendasi add menunjukkan potensi imbal hasil lebih dari 10 persen dalam 12 bulan ke depan. Keyakinan ini didukung oleh proyeksi pertumbuhan laba per saham (EPS) Mayora yang diperkirakan mencapai 18 persen pada 2026. Keputusan pembelian atau penjualan saham sepenuhnya berada di tangan investor.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar