Hebar di media sosial datang dari sebuah video ceramah. Akun Instagram @leveenia mengunggahnya, menampilkan Saiful Mujani, dan langsung memicu perdebatan sengit. Intinya? Ada narasi yang ditangkap banyak orang sebagai ajakan untuk menjatuhkan Presiden Prabowo Subianto jauh sebelum masa jabatannya berakhir di 2029.
Nah, pernyataan seperti ini tentu saja menyentuh urat saraf demokrasi kita. Di mana sebenarnya batas kritik yang sehat, dan kapan ia mulai bergeser menjadi hasutan yang berbahaya?
Rico Marbun, Direktur Eksekutif Median, termasuk yang menyayangkan kejadian ini. Baginya, terlebih karena yang menyampaikan adalah seorang akademisi, ajakan semacam itu justru menunjukkan ketidakdewasaan.
Ujarnya, Minggu lalu. Rico menegaskan, mekanisme konstitusional sudah ada untuk mengatur pergantian kekuasaan. Mengapa tidak lewat situ?
Di sisi lain, Rico melihat pemerintah saat ini justru punya sejumlah capaian yang patut diacungi jempol, terutama di tengah tekanan ekonomi global yang tak mudah. Ia memberi contoh stabilitas harga pangan pasca-Lebaran yang relatif mulus, barang-barang pokok tetap tersedia di pasar. Tidak berhenti di situ, harga BBM juga berhasil dikendalikan.
jelasnya lagi.
Soal keamanan, sikap tegas Presiden terhadap kekerasan politik juga diapresiasi. Kasus penyiraman air keras terhadap aktivis, misalnya, langsung ditegaskan sebagai tindakan terorisme. Belum lagi komitmen pemberantasan korupsi yang menurutnya mendapat sambutan positif dari masyarakat.
Artikel Terkait
Keputusan Tahanan Rumah Yaqut Picu Gelombang Permohonan Serupa di KPK
Tokoh Madura Islah Bahrawi: Teror Aktivis Tamparan Keras bagi Demokrasi
Mentan Amran Beri Bantuan Langsung Rp20 Juta ke Pedagang Kerupuk di Bone
JK Bantah Tudingan Danai Upaya Persoalkan Ijazah Jokowi, Akan Laporkan ke Bareskrim