Lonjakan Harga Minyak Picu Kenaikan Tarif dan Dilema bagi Maskapai Penerbangan

- Minggu, 05 April 2026 | 13:15 WIB
Lonjakan Harga Minyak Picu Kenaikan Tarif dan Dilema bagi Maskapai Penerbangan

Harga tiket pesawat mulai merangkak naik. Pemicunya? Lonjakan harga minyak yang terjadi belakangan ini, yang langsung berdampak pada biaya bahan bakar jet. Maskapai di berbagai negara terpaksa mengambil langkah ini untuk menutup kerugian.

Tapi, di sisi lain, situasinya nggak sesederhana itu. Ada dilema yang nyata. Kenaikan tarif berisiko bikin konsumen mengerem niat terbang, apalagi di tengah daya beli yang lagi lemah. Mereka bisa memilih untuk menunda atau bahkan membatalkan rencana perjalanan.

Padahal, sebelum ketegangan AS-Israel dengan Iran memanas bulan lalu, prospek industri ini terlihat cerah. Prediksinya, keuntungan global bisa mencapai USD41 miliar pada 2026. Sayangnya, ancaman baru datang dari harga bahan bakar pesawat yang melonjak dua kali lipat. Target itu pun sekarang dipertanyakan kembali, memaksa para eksekutif maskapai memutar otak mencari strategi baru.

Menurut laporan dari CNA awal April, responsnya beragam. Beberapa maskapai besar, sebut saja United Airlines dan Air New Zealand, memilih mengurangi kapasitas penerbangan sekaligus menaikkan tarif. Yang lain memilih memberlakukan biaya tambahan bahan bakar secara terpisah.

Scott Kirby, CEO United Airlines, memberikan gambaran yang cukup jelas tentang betapa besarnya tekanan ini.

"Tarif perlu dinaikkan sekitar 20 persen hanya untuk menutupi kenaikan biaya bahan bakar," ujarnya dalam sebuah wawancara dengan ABC News.

Editor: Melati Kusuma


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar