Ezra Walian tak punya penyesalan. Dalam sebuah podcast yang diunggah klub Belanda, Ajax Amsterdam, penyerang Persik Kediri itu bicara blak-blan soal pilihannya membela Timnas Indonesia. Sejak resmi menjadi Warga Negara Indonesia pada 2017, langkah itu tak pernah ia ragukan.
“Saya sudah tinggal di Indonesia selama enam tahun sekarang,” ujar Ezra.
Suaranya terdengar tenang namun pasti. “Saya pikir pertama kali saya bermain untuk Timnas Indonesia adalah pada tahun 2017. Itu waktu saya di Jong Ajax.”
Momen naturalisasi itu sendiri diputuskan saat karirnya masih berkembang di akademi Ajax. Prosesnya selesai 18 Mei 2017, dan tak lama setelah itu, kesempatan membela Garuda pun datang. Bagi Ezra, itu adalah titik balik. Sebuah babak baru yang memberi warna berbeda pada perjalanan sepak bolanya.
Dan pilihannya bukanlah keputusan yang dibuat terburu-buru. Ezra mengaku sudah mempertimbangkan matang-matang, termasuk menyadari betapa berbedanya atmosfer sepak bola Eropa dengan Asia. Namun, semua itu justru menjadi bagian dari petualangannya.
“Dan sejujurnya, saya tidak pernah menyesal,” tegasnya. “Karena itu adalah langkah yang luar biasa bagi saya. Tentu saja, sangat berbeda dengan Eropa dan banyak hal lainnya.”
Lalu, dengan nada yang lebih mantap, dia menambahkan, “Tapi saya tidak memiliki satupun penyesalan.”
Setelah komitmennya pada timnas, Ezra memutuskan untuk benar-benar membenamkan diri di kancah sepak bola Indonesia. Dia memulai karir lokalnya bersama PSM Makassar di tahun 2019. Pengalaman itu, menurutnya, membuatnya makin paham dengan kultur sepak bola tanah air. Ia tak hanya jadi pemain, tapi juga belajar menjadi bagian dari ekosistemnya.
Kini, di Persik Kediri, posisinya makin vital. Ezra bukan sekadar penyerang andalan Macan Putih, tapi juga sosok berpengalaman di ruang ganti. Keputusannya dulu untuk naturalisasi dan bermain di dalam negeri, rupanya membawanya pada peran ini.
Di tengah ramainya perdebatan tentang pemain naturalisasi, pengakuan Ezra dalam podcast Ajax ini seperti angin segar. Ia tak cuma bicara soal dokumen dan administrasi. Lebih dari itu, yang ia tunjukkan adalah komitmen nyata dan keyakinan yang tak goyah. Pilihannya untuk Indonesia diambil dengan hati, dan itu yang ia pegang teguh sampai sekarang.
Artikel Terkait
Simon Santoso, Pebulu Tangkis Terakhir yang Juarai Indonesia Open Tunggal Putra 14 Tahun Lalu
PSIS Semarang Terancam Gagal Rekrut Carlos Fortes Akibat Sanksi FIFA di Tengah Rencana Kebangkitan Bersama Widodo Cahyono Putro
PSM Makassar Tutup Musim Pahit di Papan Bawah, Ahmad Amiruddin Isyaratkan Perombakan Besar dan Peluang Kembalinya Darije Kalezic
PSM Makassar Kehilangan Yuran Fernandes, Pelatih Baru Hadapi Tugas Berat Isi Kekosongan Kapten di Tengah Sanksi FIFA