PSM Makassar Tutup Musim Pahit di Papan Bawah, Ahmad Amiruddin Isyaratkan Perombakan Besar dan Peluang Kembalinya Darije Kalezic

- Senin, 01 Juni 2026 | 22:30 WIB
PSM Makassar Tutup Musim Pahit di Papan Bawah, Ahmad Amiruddin Isyaratkan Perombakan Besar dan Peluang Kembalinya Darije Kalezic

Musim 2025/2026 telah resmi berakhir bagi PSM Makassar, tetapi bagi Pasukan Ramang, fase krusial justru baru akan dimulai. Kekalahan 0-2 dari Madura United pada laga pamungkas menjadi penutup pahit yang sekaligus mengakhiri perjalanan penuh gejolak, ketidakpastian, dan tekanan sepanjang musim ini.

Klub yang baru dua musim lalu berdiri kokoh sebagai juara Liga 1 Indonesia kini harus menerima kenyataan pahit finis di papan bawah klasemen. Realitas ini sulit diterima oleh suporter yang selama ini terbiasa melihat Juku Eja bersaing di papan atas. Oleh karena itu, ketika caretaker pelatih Ahmad Amiruddin angkat bicara usai pertandingan, pesannya terasa lebih dari sekadar evaluasi rutin akhir musim. Ada nada peringatan dan isyarat perubahan besar di dalamnya.

Menurut Ahmad Amiruddin, posisi PSM saat ini sama sekali tidak mencerminkan sejarah dan identitas klub. Sebagai tim yang pernah menjadi juara dan rutin bersaing di level tertinggi sepak bola Indonesia, berada di papan bawah merupakan kondisi yang tidak boleh terulang. Karena itulah ia secara terbuka menyampaikan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap tim. Pernyataan tersebut menjadi sinyal paling jelas bahwa PSM tengah bersiap memasuki fase baru.

“Semua harus dievaluasi.” Kalimat yang terdengar sederhana itu, dalam dunia sepak bola profesional, sering menjadi pertanda bahwa perubahan besar sedang disiapkan. Evaluasi tidak hanya menyentuh pemain, tetapi juga struktur tim, filosofi permainan, metode kerja, hingga arah pembangunan klub untuk beberapa tahun ke depan.

Ketika berbicara tentang arah baru PSM, satu nama mulai muncul semakin kuat di tengah publik sepak bola Makassar: Darije Kalezic. Rumor kepulangan pelatih asal Bosnia itu terus berkembang dalam beberapa pekan terakhir. Bahkan, berbagai informasi menyebutkan bahwa kesepakatan antara manajemen PSM dan Darije telah tercapai, tinggal menunggu proses penandatanganan kontrak. Jika benar demikian, maka pesan Ahmad Amiruddin dan kehadiran Darije Kalezic sebenarnya berada dalam satu garis cerita yang sama: keduanya berbicara tentang perubahan dan membangun ulang PSM Makassar.

Darije bukanlah sosok asing bagi publik Makassar. Ia pernah menghadirkan salah satu momen paling bersejarah dalam perjalanan klub saat membawa PSM menjuarai Piala Indonesia 2019. Trofi tersebut terasa sangat spesial karena mengakhiri penantian panjang selama 19 tahun tanpa gelar nasional. Namun, yang menarik, banyak pihak menilai proyek Darije sebenarnya tidak pernah benar-benar selesai. Saat datang ke Makassar pada 2019, ia mewarisi skuad yang sebagian besar telah dibentuk sebelumnya. Sang pelatih bahkan pernah mengungkapkan bahwa dirinya tidak sepenuhnya terlibat dalam proses pembentukan tim saat itu. Karena itu, ketika kini namanya kembali dikaitkan dengan PSM, muncul keyakinan bahwa ia bisa mendapatkan kesempatan kedua untuk membangun tim sesuai dengan visi yang selama ini ingin diterapkannya.

Situasi yang dihadapi PSM saat ini juga berbeda dibanding beberapa tahun lalu. Klub sedang berada dalam fase transisi besar. Sejumlah pemain senior diperkirakan meninggalkan tim, sementara beberapa pemain asing juga telah mengakhiri kontraknya. Di saat yang sama, PSM harus menghadapi keterbatasan akibat berbagai persoalan yang muncul sepanjang musim. Dalam kondisi seperti itu, klub membutuhkan pelatih yang tidak hanya mampu mengejar hasil instan, tetapi juga sanggup membangun fondasi jangka panjang. Karakter tersebut melekat pada sosok Darije Kalezic, yang dikenal sebagai pelatih yang menyukai proses dan tidak hanya fokus pada pertandingan akhir pekan, tetapi juga pada bagaimana sebuah tim berkembang dari waktu ke waktu.

Filosofi itu sejalan dengan pesan Ahmad Amiruddin yang meminta manajemen memanfaatkan lisensi klub Asia sebagai pijakan untuk membangun organisasi yang lebih kuat dan profesional. Lisensi Asia bukan sekadar dokumen administratif, melainkan menunjukkan bahwa PSM memiliki standar yang memungkinkan mereka bersaing di level yang lebih tinggi. Namun, standar itu harus dibarengi dengan kualitas tim yang memadai. PSM membutuhkan skuad yang lebih kompetitif, identitas permainan yang jelas, stabilitas, dan yang tidak kalah penting, harapan baru.

Harapan itulah yang saat ini mulai tumbuh di tengah suporter. Meski musim berakhir dengan kekecewaan, banyak pendukung Juku Eja justru melihat situasi sekarang sebagai kesempatan untuk memulai sesuatu yang baru. Mereka menyadari bahwa musim buruk terkadang diperlukan agar sebuah klub bisa melakukan refleksi mendalam dan memperbaiki fondasi yang selama ini rapuh. Karena itu, perombakan skuad yang diisyaratkan Ahmad Amiruddin tidak sepenuhnya dipandang negatif. Sebaliknya, langkah tersebut dianggap sebagai kebutuhan yang tidak bisa dihindari, apalagi jika benar Darije Kalezic akan menjadi arsitek baru PSM Makassar. Dengan pengalaman yang pernah dimilikinya di Makassar, pemahaman terhadap kultur klub, serta kedekatan emosional dengan suporter, Darije dinilai memiliki modal yang cukup untuk memimpin kebangkitan Pasukan Ramang.

Tentu tidak ada jaminan bahwa musim depan akan langsung berjalan mulus. Persaingan Liga Indonesia semakin ketat dan klub-klub lain juga terus berbenah. Tantangan yang menanti PSM tidak akan mudah. Namun, setidaknya arah yang ingin dituju mulai terlihat. Pesan Ahmad Amiruddin di akhir musim bukan hanya tentang evaluasi atas kegagalan, melainkan juga ajakan untuk menatap masa depan. Jika Darije Kalezic benar-benar kembali ke Makassar, maka masa depan yang dimaksud bisa jadi sedang mulai disusun dari sekarang. Sebab dalam sepak bola, kebangkitan besar sering kali dimulai dari musim yang paling mengecewakan. Bagi PSM Makassar, musim 2025/2026 mungkin menjadi titik terendah, tetapi dari titik itulah harapan untuk kembali melesat musim depan mulai tumbuh.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar