Seorang warga Gang At-Taufik, Rangkapan Jaya, Pancoran Mas, Depok, Azis Suraji, harus menghadapi teror dari tetangganya sendiri sejak tahun 2024. Lemparan telur, sampah, hingga perusakan pagar rumah terekam jelas dalam kamera pengawas (CCTV) miliknya. Dalam salah satu rekaman, dua pria yang merupakan tetangganya terlihat melempar benda ke arah rumah. Rekaman lain menunjukkan salah satu dari mereka mendekati rumah dan diduga merusak pagar.
Azis mengaku tidak mengetahui pasti pemicu teror tersebut. "Mungkin pemicunya saja sih, Pak. Kalau kronologinya kan sudah ada di media sosial. Kalau pemicunya sendiri apa, kita juga enggak tahu sebenarnya," katanya kepada wartawan, Kamis (16/7).
Kejadian terakhir yang dialami Azis terjadi saat ia baru pulang kerja dan berbincang dengan teman di tikungan dekat area pemakaman, tidak jauh dari rumahnya. "Tiba-tiba pas saya lagi ngobrol dia lewat, terus langsung ngata-ngatain saya dengan kata-kata yang enggak enak didengar. Saya sama sekali enggak merespons," ujarnya. Tetangganya sempat pergi, tetapi kemudian kembali dan berteriak-teriak di pertigaan jalan. Azis memilih pulang, namun tetangganya mengejar. "Nah, kejadian selanjutnya sudah ada di video semua," ungkapnya.
Intimidasi tidak hanya dialami Azis, tetapi juga seluruh anggota keluarganya. "Semua satu keluarga. Saya, istri, anak-anak, sampai cucu saya. Bahkan cucu saya kalau mau keluar rumah sekarang jadi ketakutan," katanya. Selain pagar rumah, sepeda motor milik Azis juga rusak setelah diduga dilempar helm oleh pelaku. Ancaman verbal dan ajakan berkelahi kerap diterimanya, termasuk ancaman santet. "Sering ngajak saya keluar rumah, ngajak berantem. Bahkan ada juga ancaman-ancaman macam-macam, termasuk soal santet," tuturnya.
Azis akhirnya melapor ke polisi. Kasi Humas Polres Metro Depok AKP Hendra menyebut laporan itu tengah didalami. "Sekarang sedang dilakukan pemeriksaan, cek TKP dari Polres. Untuk LP-nya, sudah buat LP di Polres Metro," katanya, Jumat (17/7). Hendra mengatakan kasus ini diduga sudah masuk ranah pidana karena terjadi perusakan. Soal penyebab teror, polisi masih menyelidiki. Dugaan awal karena persoalan bahasa. "Salah paham, masalah bahasa aja," tuturnya.
Ketua RW setempat, Supriyatla, mengungkap awal pemicu teror. Menurutnya, Azis pernah menegur tetangganya karena suara musik yang terlalu keras. "Jadi sebetulnya waktu pertama dulu pernah saya mediasi. Pelaku ini menyetel musik terlalu keras. Kemudian korban sempat mengucapkan 'stres'," ujar Supriyatla. Ucapan itu rupanya masih membekas di hati tetangganya hingga kini. "Rupanya sampai saat ini kata 'stres' itu masih terus diingat. Jadi seperti menjadi alasan untuk terus menyimpan dendam," katanya. Azis membantah pernah menegur tetangganya karena musik keras. Supriyatla mengaku sudah dua kali memediasi kedua pihak, bahkan sempat menghasilkan perjanjian tertulis. "Saya sering menerima laporan soal kejadian-kejadian berikutnya. Kami sudah mencoba mendamaikan mereka, saling memaafkan, bahkan sampai berpelukan. Tapi besoknya kejadian lagi," ujarnya. Perjanjian tertulis itu pun akhirnya dilanggar.
Pada akhirnya, Azis memutuskan menjual rumahnya. Menurut sang anak, Ashyfa, keputusan berat itu diambil karena orang tua mengalami tekanan psikis. Keluarga sengaja pindah dari Kebagusan ke Depok agar bisa berkumpul di lingkungan yang asri. "Pindah dari Kebagusan Megawati, area yang rame, dikelilingin sama saudara, belah-belahin jauh ke sini biar hidup tenang, nggak diusik atau nggak diganggu. Karena ya itu dari buat ngumpul keluarga besar enak, adem lokasinya, masih dikelilingin asri," ujarnya. Namun kenyataan berbalik. "Pokoknya pas ke sini dengan kondisi seperti ini setiap saat, saya capek juga dari sisi keluarga," katanya. Dampak paling berat dirasakan ibunda Ashyfa. "Sampai hari ini nyokap saya kena kayak, mungkin orang tua saya stres kali ya, bisa dibilang. Tertekan juga dengan adanya. Sampai kemarin ulang tahunnya, dia nangis-nangis. Lihat orang sebanyak, dari media apa sih, orang banyak, dia sedih, dia nangis. Kenapa ini bisa terjadi? Dia cuma pengin hidup tenang doang," ungkapnya. Sebelum melapor ke polisi, keluarga sudah memberi peringatan terakhir ke pelaku. "Karena kita udah tegasin berkali-kali, sampai terakhir kita tegasin, kalau nggak ntar gue viralin, tapi masih kayak gini ya udah," ujarnya.
Artikel Terkait
Konflik Tetangga di Depok Berlangsung Sejak 2017, Korban Laporkan Teror ke Polisi
Pemkot Depok Siapkan Pengolahan Sampah Biologis di TPA Cipayung
Delapan Tahun Diteror Tetangga, Keluarga di Depok Jual Rumah demi Kedamaian
Keluarga di Depok Jadi Korban Teror Tetangga, Akibat Salah Paham Candaan