Final Piala Dunia dalam Angka: Messi Satu Langkah Lagi Samai Rekor Cafu

- Sabtu, 18 Juli 2026 | 07:30 WIB
Final Piala Dunia dalam Angka: Messi Satu Langkah Lagi Samai Rekor Cafu

Final Piala Dunia 2026 antara Argentina dan Spanyol menyimpan peluang lahirnya sejarah baru, terutama bagi Lionel Messi. Kapten Argentina itu berpotensi menyamai rekor Cafu sebagai satu-satunya pemain yang tampil dalam tiga final Piala Dunia.

Messi sebelumnya bermain pada final 2014 melawan Jerman dan final 2022 menghadapi Prancis. Jika kembali diturunkan melawan Spanyol, dia akan berdiri sejajar dengan Cafu yang tampil pada final 1994, 1998, dan 2002.

Selain peluang Messi, laga final Piala Dunia selama puluhan tahun telah menghasilkan sederet angka luar biasa. Mulai dari gol dalam 88 detik, selisih usia 22 tahun, hingga rekor empat gol milik Kylian Mbappe.

Gol Tercepat Final Piala Dunia

Johan Neeskens mencetak gol tercepat dalam sejarah final Piala Dunia hanya dalam 88 detik pada 1974. Gol itu bahkan tercipta sebelum pemain Jerman Barat menyentuh bola. Belanda menyusun 16 operan sejak sepak mula hingga bola sampai kepada Johan Cruyff. Dia melewati Berti Vogts dan Uli Hoeness sebelum dijatuhkan di kotak penalti. Neeskens kemudian mengeksekusi penalti pertama dalam sejarah final Piala Dunia. Penalti tersebut baru muncul setelah turnamen berjalan selama 44 tahun. Menariknya, penalti kedua dalam pertandingan final hanya membutuhkan tambahan 23 menit. Paul Breitner mencetak gol dari titik putih dan membantu Jerman Barat membalikkan keadaan.

60 Tahun Menunggu Clean Sheet Pertama

Butuh waktu 60 tahun sampai sebuah tim mampu menyelesaikan final Piala Dunia tanpa kebobolan. Jerman Barat menjadi tim pertama yang melakukannya ketika menang 1-0 atas Argentina pada 1990. Sebelum itu, 24 tim sudah mencoba dan gagal menjaga gawang tetap bersih dalam laga final. Bodo Illgner yang berusia 23 tahun menjadi penjaga gawang Jerman Barat dalam pertandingan tersebut. Dia masih tercatat sebagai kiper termuda yang pernah bermain dalam final Piala Dunia. Peter Shilton, kiper Inggris yang dihadapi Illgner pada semifinal, bahkan sudah menjalani debut di kasta tertinggi bersama Leicester City setahun sebelum Illgner lahir. Clean sheet Jerman Barat kemudian membuka rangkaian tujuh final beruntun yang selalu menghasilkan satu tim tanpa kebobolan.

44 Tahun Menanti Juara dengan Seragam Kedua

Spanyol mengakhiri penantian selama 44 tahun ketika menjuarai Piala Dunia 2010 dengan mengenakan seragam pilihan kedua. Sebelumnya, Inggris menjadi tim terakhir yang juara memakai seragam kedua saat mengalahkan Jerman Barat dengan kostum merah pada 1966. Setelah itu, Jerman Barat kalah dari Argentina dengan seragam hijau pada 1986. Argentina tumbang dari Jerman Barat memakai seragam biru tua pada 1990, sedangkan Prancis kalah dari Italia dengan seragam putih pada 2006.

30 Laga Tanpa Kalah Hancur di Final

Jerman Barat mengakhiri rekor 30 pertandingan tanpa kekalahan milik Hungaria pada final Piala Dunia 1954. Hungaria sebelumnya menghancurkan Jerman Barat 8-3 pada fase grup. Mereka juga unggul 2-0 hanya dalam delapan menit pada laga final. Namun, tim asuhan Sepp Herberger bangkit dan menang 3-2. Sampai sekarang, Jerman Barat masih menjadi satu-satunya tim yang mampu bangkit dari ketertinggalan dua gol untuk memenangi final Piala Dunia. Rekor 30 pertandingan tanpa kekalahan milik Hungaria bertahan hampir 40 tahun sebelum dilampaui Argentina yang diperkuat Diego Simeone, Fernando Redondo, dan Gabriel Batistuta. Prancis hampir mengulangi kebangkitan tersebut saat melawan Argentina pada final 2022, tetapi mereka akhirnya kalah melalui adu penalti.

22 Tahun, Selisih Usia Terbesar Rekan Setim

Final Piala Dunia 1982 mencatat selisih usia terbesar antara dua pemain dalam satu tim juara. Giuseppe Bergomi masih berusia 18 tahun, sedangkan Dino Zoff sudah berumur 40 tahun. Keduanya terpaut 22 tahun. Selisih terbesar berikutnya terjadi antara Pele dan Nilton Santos pada 1958, yakni 15 tahun lima bulan. Sebaliknya, selisih usia pemain termuda dan tertua dalam susunan starter Prancis pada final 1998 hanya empat tahun lima bulan. Catatan itu melibatkan Zinedine Zidane dan Frank Leboeuf.

Hanya 8 Caps, Lalu Mencetak 4 Gol

Martin Peters dan Geoff Hurst hanya memiliki gabungan delapan penampilan bersama timnas Inggris sebelum Piala Dunia 1966 dimulai. Meski minim pengalaman internasional, keduanya mencetak seluruh empat gol Inggris dalam pertandingan final. Situasi berbeda terjadi empat tahun kemudian. Para pencetak empat gol Brasil pada final Piala Dunia 1970 datang ke Meksiko dengan gabungan 220 penampilan internasional.

7 Tim Pernah Menang Setelah Tertinggal

Tujuh tim tercatat mampu meraih kemenangan comeback dalam final Piala Dunia. Enam di antaranya terjadi dalam tujuh edisi awal. Uruguay melakukannya saat menghadapi Argentina pada 1930, Italia atas Cekoslowakia pada 1934, Jerman Barat melawan Hungaria pada 1954, Brasil atas Swedia pada 1958, Brasil melawan Cekoslowakia pada 1962, serta Inggris atas Jerman Barat pada 1966. Uruguay juga bangkit untuk mengalahkan Brasil dan mengangkat trofi pada 1950, meski pertandingan tersebut bukan final resmi. Tim terakhir yang membalikkan keadaan dan menang dalam final adalah Jerman Barat saat menghadapi Belanda pada 1974 atau 52 tahun lalu. Italia sempat tertinggal pada final 2006, tetapi mereka baru memastikan gelar melalui adu penalti.

5 Pemain Brasil Berubah dari Laga Pertama

Brasil mengganti lima pemain dari susunan starter pertandingan pembuka menuju final Piala Dunia 1958. Djalma Santos, Zito, Garrincha, Pele, dan Vava tidak menjadi starter pada pertandingan pertama melawan Austria. Mereka kemudian mendapat tempat utama sepanjang turnamen hingga membawa Brasil menjadi juara. Pada final tersebut, Nils Liedholm yang berusia 35 tahun menjadi pencetak gol tertua dalam sejarah laga puncak Piala Dunia. Pele yang baru berusia 17 tahun menjadi pencetak gol termuda. Kemenangan Brasil 5-2 atas Swedia juga masih menjadi final dengan jumlah gol terbanyak.

4 Gol, Mbappe Paling Subur di Final

Kylian Mbappe menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah final Piala Dunia dengan koleksi empat gol. Dia mencetak satu gol pada final 2018 dan tiga gol ketika menghadapi Argentina pada 2022. Geoff Hurst, Vava, Pele, dan Zinedine Zidane berada di bawah Mbappe dengan masing-masing tiga gol. Gol terakhir Mbappe di Stadion Lusail pada menit ke-118 juga tercatat sebagai gol paling akhir yang pernah tercipta dalam final Piala Dunia.

3 Final, Rekor Cafu Diburu Messi

Cafu menjadi satu-satunya pemain yang pernah tampil dalam tiga final Piala Dunia. Dia masuk menggantikan Jorginho yang cedera pada babak pertama final 1994 melawan Italia. Cafu kemudian bermain menghadapi Prancis pada 1998 dan menjadi kapten Brasil melawan Jerman pada 2002. Pele memang memegang rekor tiga gelar Piala Dunia, tetapi dia tidak bermain pada final 1962 karena cedera. Messi kini berpeluang menyamai Cafu setelah sebelumnya tampil pada final 2014 dan 2022. Laga Argentina melawan Spanyol akan menjadi final ketiganya jika dia kembali dimainkan.

5 Pemain Cetak Gol di Dua Final

Hanya lima pemain yang mampu mencetak gol dalam dua final Piala Dunia berbeda. Mereka adalah Vava pada 1958 dan 1962, Pele pada 1958 dan 1970, Paul Breitner pada 1974 dan 1982, Zinedine Zidane pada 1998 dan 2006, serta Kylian Mbappe pada 2018 dan 2022.

2 Negara Pernah Dibela Luis Monti

Luis Monti menjadi satu-satunya pemain yang tampil dalam final Piala Dunia untuk dua negara berbeda. Gelandang tersebut membela Argentina, negara kelahirannya, saat melawan Uruguay pada final 1930. Dia kemudian memperkuat Italia menghadapi Cekoslowakia pada 1934. Final 1934 juga menjadi satu-satunya laga puncak yang mempertemukan dua tim dengan kapten berposisi sebagai penjaga gawang. Italia dipimpin Giampiero Combi, sedangkan Cekoslowakia dipimpin Frantisek Planicka.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags