Trump Tuding China Intervensi Pilpres AS 2020, Sebut 220 Juta Berkas Pemilih Dikuasai Asing

- Jumat, 17 Juli 2026 | 11:40 WIB
Trump Tuding China Intervensi Pilpres AS 2020, Sebut 220 Juta Berkas Pemilih Dikuasai Asing

Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan tuduhan bahwa China mengintervensi pemilihan presiden AS 2020 yang menyebabkan kekalahannya dari Joe Biden. Dalam pidato resmi pada Kamis (16/7/2026), Trump menyebut China telah menguasai 220 juta berkas pemilih AS dan menyebut insiden itu sebagai "penodaan data pemilu terbesar dalam sejarah".

Pernyataan itu disampaikan bersamaan dengan pengungkapan temuan intelijen yang menurutnya menunjukkan meluasnya campur tangan asing dalam sistem pemilu AS. Mengutip laporan CIA, Trump mengatakan bahwa pada pertengahan 2018, selama masa jabatan pertamanya, kebijakan Partai Komunis China adalah "memanfaatkan seluruh elemen dalam negeri dan asing".

Menurut Trump, China berupaya mengurangi perolehan suaranya dalam Pilpres 2020, mendorongnya untuk mundur, atau mencegahnya mencalonkan diri kembali. Ia juga menuduh pemerintah China mencari jurnalis AS yang kerap membuat berita negatif tentang dirinya dan membayar mereka dengan uang dalam jumlah besar untuk terus melakukan hal serupa.

"Seperti dinyatakan dalam salah satu penilaian, kami menilai bahwa musuh-musuh Amerika Serikat, termasuk setidaknya Rusia, China, Iran, Korea Utara, serta aktor-aktor non-negara, memiliki kemampuan untuk membahayakan infrastruktur pemilu AS," katanya.

Trump juga mengeklaim pengungkapan ini menunjukkan sistem pemilu AS yang "sangat rusak dan sangat rentan" dan menegaskan sistem tersebut tidak boleh dipertahankan. "Ratusan juta berkas pemilih AS berada di tangan pemerintah asing," ujarnya, seraya menambahkan bahwa ratusan ribu warga asing dan orang yang sudah meninggal terdaftar dalam daftar pemilih tetap.

Ia mengumumkan bahwa Menteri Keamanan Dalam Negeri Markwayne Mullin akan memberikan pengarahan keesokan harinya untuk menjelaskan tugas departemennya baru-baru ini, mengonfirmasi kerentanan siber dalam sistem pemungutan suara elektronik. "Kerentanan tersebut buruk," tuturnya.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags