Trump Frustrasi Operasi Militer di Iran Makin Rumit, Ancaman Tingkatkan Serangan

- Kamis, 16 Juli 2026 | 21:25 WIB
Trump Frustrasi Operasi Militer di Iran Makin Rumit, Ancaman Tingkatkan Serangan

Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara pribadi menyatakan ketidakpuasannya terhadap jalannya Operasi Epic Fury di Iran. Menurut laporan CBS pada Rabu (15/7/2026) yang mengutip sejumlah sumber, Trump menilai Washington telah melewatkan peluang untuk menghindari konflik berkepanjangan setelah menolak proposal Teheran terkait program nuklirnya.

Konflik dengan Iran juga mengungkap perbedaan pandangan antara Trump dan Menteri Perang AS Pete Hegseth. Hegseth, meski ada kekhawatiran dari Jenderal Dan Caine, dilaporkan mendorong pendekatan yang lebih agresif terhadap Iran.

Trump dikabarkan semakin frustrasi karena operasi militer berlangsung lebih lama dan lebih rumit dari perkiraan awal. Ia juga kesal ketika Hegseth dan Caine menyampaikan kekhawatiran mengenai keterbatasan operasional.

Sejumlah pejabat Pentagon dan lembaga pemerintah lainnya dilaporkan tidak puas dengan Kepala Komando Pusat AS (CENTCOM), Laksamana Brad Cooper. Mereka menilai Cooper pada awalnya terlalu melebih-lebihkan kemampuan Pentagon dalam menghadapi Iran.

Menanggapi laporan tersebut, Wakil Sekretaris Pers Gedung Putih Anna Kelly mengatakan bahwa Trump “sangat bangga” atas kepemimpinan Hegseth dan Cooper selama Operasi Epic Fury.

Pada Selasa (14/7/2026), Trump mengadakan pertemuan di Ruang Situasi Gedung Putih untuk membahas serangan berskala besar terhadap Iran dengan cakupan lebih luas daripada yang saat ini berlangsung di Selat Hormuz. Menurut laporan Axios, Rabu (15/7/2026), para pejabat senior yang hadir antara lain Wakil Presiden J.D. Vance, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth.

Rapat itu berfokus pada rencana baru untuk menyerang sasaran-sasaran strategis di Iran di luar operasi di Selat Hormuz, demikian disampaikan sumber-sumber kepada Axios.

Sebelumnya dalam wawancara dengan Fox News, Trump mengatakan serangan terhadap Iran akan terus berlanjut dan semakin ditingkatkan jika Teheran tidak kembali ke meja perundingan. "Kami menghantam mereka dengan sangat keras. Kami menghantam setiap sasaran yang mereka miliki di sepanjang pesisir... Serangan akan terus berlanjut sampai saya mengatakan sudah cukup," kata Trump.

Trump mengatakan sasaran sektor energi belum menjadi prioritas, tetapi pada akhirnya juga akan diserang. "Saya akan menyimpan sasaran energi untuk tahap terakhir, tetapi pada akhirnya kami akan menyerang fasilitas energi," ujarnya.

Trump juga mengancam akan meningkatkan intensitas serangan mulai pekan depan dengan menyasar pembangkit listrik dan jembatan di Iran apabila Teheran tetap menolak berunding. "Malam ini kami akan menyerang mereka dengan sangat keras. Besok malam juga demikian. Malam berikutnya juga. Pekan depan keadaan akan menjadi jauh lebih buruk bagi mereka karena kami akan menyerang pembangkit listrik dan jembatan mereka, kecuali mereka kembali ke meja perundingan," katanya.

Trump mengaku yakin Iran tidak memiliki pilihan selain mencapai kesepakatan dengan AS. Ia menambahkan bahwa pejabat kedua negara masih berkomunikasi hingga sekitar satu jam sebelum wawancara berlangsung. "Mereka ingin membuat kesepakatan... Lebih baik mereka melakukannya. Jika tidak, tidak akan ada yang tersisa," ujar Trump.

Mengenai Selat Hormuz, Trump mengatakan AS ingin jalur pelayaran tersebut tetap terbuka bagi lalu lintas internasional. "Saya sempat ingin mengenakan biaya, tetapi mereka (negara-negara Teluk) lebih memilih membelanjakan lebih banyak uang di Amerika Serikat. Menurut saya itu lebih baik karena saya tidak menyukai gagasan mengenakan biaya. Selat itu harus tetap bebas," katanya.

Tak gentar dengan ancaman Trump, Iran pada Kamis mengatakan Selat Hormuz akan tetap ditutup hingga AS menerima syarat-syarat Teheran. Juru Bicara Angkatan Darat Iran Mohammad Akrami-Nia mengatakan bahwa kendali atas selat itu harus berada di bawah otoritas Iran sebelum dapat dibuka kembali.

Ia mengatakan Washington harus mematuhi ketentuan dalam kesepakatan kerangka perdamaian bulan lalu, menghentikan apa yang disebutnya sebagai tindakan bermusuhan, dan menerima aturan Iran yang mengatur Selat Hormuz. Akrami-Nia menambahkan bahwa aksi militer AS yang terus berlanjut tidak akan memaksa Iran untuk membuka kembali jalur perairan tersebut.

Sebelumnya pada Senin, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan bahwa Teheran akan tetap menjadi "penjaga" Selat Hormuz, setelah Trump mengancam akan mengenakan biaya pada pelayaran di jalur air strategis tersebut. "Presiden AS benar sekali. Siapa pun yang menyediakan jalur aman dan terjamin bagi kapal-kapal komersial melalui Selat Hormuz harus diberi kompensasi atas layanan ini," kata Araghchi di akun X. "Iran selalu menjadi PENJAGA Selat dan akan tetap demikian SELAMANYA," tambahnya.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags